Obrolan singkat dengan si bungsu tadi sore sebelum Maghrib tadi.
.
.
.

Saya: Dek.. peserta yang ikut MTQ kategori Tafsir Bahasa Arab, itu maksudnya.. gimana yah… krn Quran kan sdh berbahasa Arab… trs bagaimana menafsirkannya? Dari turunan katanya? Asal katanya? Atau…?

Adek: Dari kitab-kitab tafsir…

Saya: Karya.. siapa..? Emangnya nggak boleh menafsirkannya dengan pemahaman pribadi, menurut logika saya, menurut pendapat saya, menurut hemat saya..?
.
.
.

Melihat ekspresi emaknya nungguin jawaban yang lebih detil….. dia simpan henponnya…. dan melanjutkan,

“Buu… ini bukan seperti sidang skripsi/tesis…. nggak boleh menafsirkan sendiri, hanya bermodal Quran terjemahan, atau sekedar lulus S1 bahasa Arab, apalagi copas dari artikel seliweran di jagad maya…..”

Saya: Tapiii….?

Adek: …… Tapi, kita pelajari kitab-kitab tafsir ulama-ulama jaman duluuu mulai yang masa hidupnya paling dekat dengan (setelah Rasulullah Saw wafat) para sahabat yg mulia, 4 imam madzhab, atau….

Saya: ya? #menunggu

Adek: Belajar kitab tafsir ulama kontemporer, yang kitab tersebut sudah dishahihkan oleh ulama-ulama yang lebih hebat dari beliau. ….. dan..

Saya: …. Dan?

Adek: Belajarnya juga harus ada pembimbing yg kompeten. Nggak boleh otodidak.

Saya: Kenapa nggak boleh otodidak?

Adek: K a r e n a a a …… belajar sendirian itu, beresiko….. mudah disabotase syaithan.. hawa nafsu bermain-main.. ketika logika dinomersatukan, pemahaman cenderung meleset dari tauhid. …. Jadi… belajar Tafsir Quran dan Hadits itu, mutlak wajib Talaqqi.

Saya: Tatap muka dengan pembimbingnya?

Adek: #ngangguk #senyum

Saya: Nggak boleh online…?

Adek: Bisa aja sih, online… tapi harus realtime… dialog interaktif….. misalnya lewat video call. ….. ya tetep ajaa, tatap muka juga…. #nyengir

Saya: Fahimtu (saya paham)…. syukran, ya ibnaty (terima kasih wahai putriku) ….. barakallahufik (#doa)…..
#peluk #ciumjidat

.
.
.

Ada yang mau titip pertanyaan?