Emang gak pernah ngomelin anak Fi..?

Pernah lahh…. Namanya juga, emak.

Kapan?

Pertama, ketika mereka lalai dari tanggung jawab harian. Misalnya, lalai dari standar kebersihan diri, kamar pribadi, dan seluruh bagian rumah. Lalai dari disiplin meletakkan barang kembali ke tempatnya, manajemen tepat waktu, manner, attitude.

Kedua, ketika… tindakan mereka mulai nggak fokus, nggak selaras dengan cita-cita yg mereka pilih. Refreshing boleh-boleh ajaa. Tapi jangan sampai lalai dari tanggung jawab masa depan.

Tapi ketika saya lihat mereka sudah berjuang sungguh-sungguh, hasilnya tidak memenuhi harapan. Malah saya kasih hadiah. Jalan-jalan kemana, maksibar, nobar, dufan.

Kalo lagi bokek, pelukin ajaa. Puji-puji. Nobar di kamar ajaa, film² komedi. Ngobrolin yg lucu²……

Setelah mereka terlihat rileks, kita evaluasi bareng. What next. Mulai dari awal, sesuatu yang baru, atau target lama dengan rencana dan cara kerja yang berbeda.

Beda anak, beda karakter. Kakak, dari A sampai Z, semuanya dia yg memutuskan. Selalu siap dengan alasan-alasan kuat, jawaban untuk setiap pertanyaan kami, “Kenapa kamu pilih itu? Apa yg kamu harapkan? Bagaimana cara kamu ke sana?”

Adiknya, agak berbeda. Lebih santai tapi banyak maunya, hahaha. Kami dorong dia untuk riset lebih dalam, goal-target yg dia mau capai. Bagaimana caranya, perlu persiapan apa saja, tantangannya apa, bagaimana rencana kerjanya, dsb. Jadi kayak sidang skripsi, dia harus bolak balik revisi, sampai kami lihat dia mantap dengan pilihannya.

Cara ini sudah saya lakukan bahkan sejak mereka SD, sejak mereka punya pilihan ekskul. Tentu saja dengan bahasa dan gaya sesuai usia pemahamannya.

Inii ceritaku…. Mana ceritamu? 🙂