Sabtu 23 Juni 2017 adalah jadwal kemoterapi ketiga. Alhamdulillah malam sebelumnya, cukup tidur, cukup istirahat, fisik lebih siap dibanding kemo kedua. Berangkat ditemenin suami dan si ragil saja, karena si kakak sudah aktif kuliah lagi.

Sepanjang perjalanan saya berusaha memperbanyak istighfar dan berdoa, “Ya Allah saya mohon petunjuk, kekuatan, pertolongan, ampunan, taqwa, dan saya mohon limpahan rasa ridha atas segala kehendak-Mu…”

Lanjutkan membaca klik di sini

Ma syaa Allah dalam benak saya muncul wajah Pipit Pitasari Djafar yang beberapa bulan lalu mengunjungi saya dan sharing pengalaman di kamar depan, ngobrol dari hati ke hati… waktu itu kita berduaan aja ya Pit… Nofi Zaiman jemput bocah… dan Shinta Handini lagi pules2nya, haha…

Dalam bayangan saya, Sabtu pagi kemarin itu, kamu ngulang-ngulang ngomong ini Pit, “Gue sih, pasrah aja Fi…”

Ya… Pasrah.
Surrender. Terima. Lapang dada.
Saya sedang belajar… mengubah mindset saya, mengubah respon saya, menyikapi proses ikhtiar panjang melelahkan ini sebagai…. ni”mat…. keindahan…. blesssing.

Kamar 519.

Dua orang suster muda masuk dan menyapa kami. Mereka memeriksa kesiapan fisik saya. Alhamdulillah nadi dan tensi normal. Eng ing eeng… keliatan deh, botol infus, selang, dan jarum sudah siap.

Saya putuskan, kali ini saya yang pegang kendali. Saya minta suami dan anak, merapat, dalam jangkauan penglihatan. Saya juga minta kedua suster berdoa bersama kami.

Suster: ibu… saya masukkan jarumnya sekarang, ya.. tarik napas ya bu….. Bismillah…

Saya: #tariknapas

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

Artinya:

“Dengan nama Allah yang bila disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Alhamdulillah… tak perlu suster yang senior atau petugas Lab darah untuk memasukkan jarum infus ke dalam vena tangan kiri saya. Cukup sebuah tim yang… berserah diri.

Selama 6-7 jam di ruangan gelap saya isi ngobrol dengan suami dan anak, ngemil, makan, ngemil, ngemil lagi, heheheh…. dan murojaah Surat apa saja yang saya hapal (dikoreksi oleh si ragil) ….. ketika muncul reaksi tubuh efek obat yang sedang masuk, sayamembaca ulang doa dzikir andalan tersebut di atas.

Alhamdulillah everything was undercontrolled. Much much better.

Terima kasiiih dukungannya, doanya, keluarga dan sahabat semua. Jazakumullahu khairan.

Semoga, kemoterapi berikutnya, hingga selesai selurih siklus semuanya, semakin membaik lagi prosesnya, efeknya lebih ringan lagi, dan Allah limpahkan kesembuhan sempurna kesehatan paripurna, taufiq, hidayah, ni’mat istiqomah dalam ketaatan, hingga waktunya pulang Husnul Khotimah, aamiin.

Allohumma sholli wa sallim wa barik ‘ala Muhammad walhamdulillahi Rabbil’alamiin.