Belajar jadi emak yang baek dan mendingan itu, susah susah gampang. Apa gampang gampang susah? Auk ahh, ya gitu lah.

Suami saya sering bilang, “Kamu, kalo diskusi sama anak, kalo sampe emosi, mayah2… artinya kamu kalah pinter sama mereka…”

Jadilah kemudian saya mempersiapkan diri dulu, sebelum diskusi, atau sebelum melarang anak jangan lakukan ini itu anu. Saya pastikan dulu, punya sejumlah alasan kuat untuk meyakinkan mereka. Hehehe…

Tantangannya kemudian, ternyata alasan mereka lebih kuat dan lebih banyak lagi benefitnya dibanding lackness (kekurangan)nya. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tantangan bagi emak yang punya sifat Koleris kuat, bisa baper parah kalo nasehatnya nggak diturutin. Syaithan memprovokasi, “Kamu kan ibu… mosok anakmu kamu biarkan nggak nurut sihh… ntar kebiasaan lohh, jadi anak durhaka lohh, masuk neraka..”

Taawudz… istighfar… taawudz…. istighfar lagi… introspeksi diri… ngomong ama diri sendiri..

Mak… Mak… Anakmu ituu, amanah lohh…. Gimana-gimananya mrk nantii, itu refleksi (cermin) dari campur tangan kita juga sebagai orangtuanya…

Kita jadi ibuu…. Jangan mentang-mentang diistimewakan agama, surga di bawah telapak kaki ibu, terus jadi “semena-mena” sama anak….

Emangnya udah nggak ada cara lain ya, selain ngancem “kalo ga nurut, durhaka, neraka. ” …..?
Kita ini ibuu… Atau Nabi?

Nabi saja nggak segitunya hitam putih ke anak-anaknya. (Baca kisah diskusi Nabi Ibrahim dan anaknya).

Jangan sampee anak jadi depresi karena terus-terusan didoktrin “ga nurut, durhaka, neraka” tanpa kita mau berusaha memahami harapan anak.

Emangnya kita senang liat anak jadi serba susah karena tiap mau melangkah, ortunya nggak ridha? Emangnya kita nggak mau merasa bahagia melihat anak sukses karena dapat sangu restu keridhoan ortunya?

Selama pilihan itu bukan hal yang prinsip, tidak membahayakan aqidah tauhidnya, idealnya sih nggak perlu baper ya Mak…. harusnyaaaa…. dan prakteknya…. hahaha 😁😁😁

Bapak-bapak juga diharapkan banget yaaa, sering-sering membahagiakan istrinya…. karena, ibu yang berbahagia akan berpotensi menjadi pendidik hebat di rumahnya, anak-anaknya lebih berbahagia, lebih cerdas, lebih menyejukkan hati orangtuanya. Dengan ijin Allah.

Sayang anak… sayang anak…. sampek bisa reunian di surga. ….. sayang anak… sayang anak…..

.
.
.

Kayaknya saya sedang mengigau….

Ocehan tengah malem, abis dari toilet.
Matiin lampu, tarik selimut….. zzz….