Sedang membangun kebiasaan baru sejak entah sebeĺum atau sesudah operasi. Ĺupita eike persisnya kapan. Tiap pagi suami berangkat ngantor, bukan hanya cium tangan dan peĺuk, tapi juga minta maaf. Kadang airmata hampir membasahi kemeja beĺiau. “Maafin aku, mas…”

Begitu juga ketika anak-anak pamit keĺuar rumah. Bukan hanya membiarkan mereka cium tangan saya, tapi saya doakan di ubun-ubunnya. Kebiasaan ini sudah saya lakukan sejak mereka Keĺompok Bermain. … Dan sekarang saya tambahkan dengan ucapan, “Maafkan ibu ya Nak..”

Kenapa selebay itu sih Fi…..

Menurut saya, ini nggak lebay. Manusia pasti berbuat kesalahan dan nggak perlu nunggu lebaran utk minta maaf. Apalagi karakter saya, yang impulsif. Ceplas ceplos. Yakin saya.., anak-anak dan suami sering “mangkel” dengan tindakan dan ucapan saya..

Akhir2 ini saya hanya sering merasa ngeri, hidup saya “selesai” sebelum urusan dengan manusia selesai (minta maaf). Saya pikir ini hanya salah satu ikhtiar kecil, menyelaraskan doa dan impian. Husnul khatimah.

Mohon doanya, semoga istiqomah.
Jika dirasa bermanfaat silakan ditiru dan disempurnakan…
Allohumma inna nas aluka Husnul khatimah wa na udzubika min azabil qobr, wa na udzubika minannaar.