.

Haji adalah Jihad.

Jihad harta, jihad fisik, bahkan jiwa. Saya tidak punya cukup persiapan fisik, karena harus menjalani siklus kemoterapi, maka bekal saya kemudian hanyalah doa. Semoga Allah memampukan fisik saya menyempurnakan rukun & wajib Haji. Semoga Allah melimpahkan saya kesabaran menikmati jamuan-Nya.

“Appetizers “

Tanggal 8 Dzulhijjah, jelang Dzuhur kloter JKG 59 sebanyak 350 jamaah dimobilisasi ke Padang ‘Arofah hanya dengan 7 bus. Geret koper (ukuran cabin) sendiri, angkut sendiri. Kalo nggak muat lagi, tuh koper pangku sendiri. He he he..

Perjalanan dari hotel ke Padang ‘Arofah makan waktu 30 menit. Maktab kami no. 8 dekat dengan toilet. Sampai di tenda berebutan “kapling” dan saya kebagian di tengah-tengah. Setelah sholat dzuhur & ‘ashar (dijamak qashar) saya mulai merasa nggak nyaman. Saya pikir, ah mungkin krn duduk, coba klo berdiri, bergerak, peredaran darah mungkin bisa lebih lancar. Saya bantu hand-over distribusi jatah makanan. Hanya mampu bergerak kurang dari 10 menit.

Qadarullah saya mengalami Hipoxy + heatstroke + dehidrasi. Rasanya seperti masuk ruangan sempit, temboknya bergerak menjepit seluruh tubuh, dada berat, leher spt tercekik, kepala sakit, demam tinggi, semutan & kram tangan kaki.

Dr Riny memutuskan memindahkan saya ke pinggir tenda dekat pintu masuk sehingga bisa mendapat oksigen yang cukup, kemudian melakukan tindakan infus dengan cairan elektrolit disambung cairan neurobion pink. Jilbab putih kena darah waktu infusan pertama gagal krn vena mblendung (rapuh efek obat Kemo).

Baju putih digunting bagian depan. Beha juga digunting, supaya bisa lebih lega bernapas.

Catatan Penting:

Pakailah baju resleting depan.

Jangan pakai beha sport yang nggak ada kaitnya. Tapi pakailah beha berkait yg mudah dibuka dalam keadaan darurat.

Sepanjang siang itu kepala, leher, punggung, dan kaki saya diguyur air-es terus-terusan. Gantian, oleh banyak jamaah. Diguyur, makk…. Bukan dikompres biasa.

Alhamdulillah ada 3 jamaah yang ternyata….. Dokter juga.

Mereka bantu mendampingi dan memonitor saya, sehingga dokter Riny bisa visit pasien lain yang tumbang juga efek kaget oleh cuaca ekstrim ‘Arofah. Komentar mereka, pasca kemoterapi memang lebih rawan dehidrasi.

Jelang maghrib bisa duduk, ehh terasa kebelet banget pingin pipis, disuruh dokter pipis pake kantong khusus, dan saya nggak pinter makenya, baju celana kena najis.

Copot infus.

Mandiii, daaaann… Satu setel baju ihrom yang dipakai hari itu direlakan ditinggal di ‘Arofah.. Karena tak mungkin dicuci dengan memakai sabun. Kann saya sedang dalam keadaan ihrom, nggak boleh secara sengaja kena wewangian.

Masih ada stok 1 setelan putih-putih dipakai.

Selesai mandi, sholat maghrib, datanglah angin badai hujan. Saya melihat ke bagian atas tenda. Rangka yang kokoh itu terlihat bergoyang-goyang seperti mau ikut terbang. Lampu berayun keras hampir-hampir menyentuh rangka, ngeri pecah.

Pembimbing haji kami mengumumkan, menyarankan memperbanyak istighfar, taubatan nasuha.

Ada 2 golomgan orang yang diundang Allah dalam ibadah Haji ini :

1. Karena Allah ingin menaikkan derajat ketaqwaannya, atau…

2. Karena dosa-dosanya. …..

#makjlebh

Kayaknya saya ini termasuk golongan yang kedua. La ilaha illa Anta Subhanaka inni kuntu minadz dzholimin… Terus menerus, diulang-ulang.

Lalu terbayang dosa pada orangtua, guru, suami, anak-anak, sahabat. Kelalaian (tidak khusyu’ dalam sholat). Pun lalai ketika berdoa. Istighfarkan ketidaksempurnaan amal, istighfarkan niat. Allah Maha Tahu aib-aib diri ini. … La ilaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadzh dzholimin. 😭

Alhamdulillah adzan ‘isya berkumandang, beberapa menit kemudian anginnya mereda… Qodarullah mulai ada lagi jamaah yg hipoxy, efek tenda ditutup utk melindungi jamaah dari kilat, angin, dan ketampyasan hujan… Sebagian tenda belakang dirobek, dibuka lebar-lebar supaya tidak semakin banyak yang “kelenger”

.

Alhamdulillah tanggal 9 Dzulhijjah saya “dikasih” sehat ‘afiyat. Cuaca terasa lebih bersahabat. Jamaah sangat perhatian ke saya, pada jam-jam makan ada yg nawarin abon, rendang, buah-buahan, dsb. Ada yg mijitin. Ada yg doain. Ada yg nguatin semangat, nguatin kesabaran, ridha.. . Ada yg ngingetin minum oralit. Saya jadi “selebriti” JKG 59.

Keren banget yaa, cara Allah memanjakan saya. Boleh nangis ga?

.

Giri Inayah. Teman SMA saya, beliau jadi petugas haji tahun ini, mengunjungi saya. Kopdar di Mina.

 photo IMG-20180823-WA0008_zpsekebe9ee.jpg

.

Tabung berwarna orens itu bukan tempat sampah. Tapi, Cooler box jumbo, berisi bongkahan-bongkahan es-batu, tersedia di setiap sudut luar tenda.

 photo IMG_20180820_142935_zpsrl7vopr2.jpg

.

Bongkahan es batu banyak manfaat, antara lain merendam kanebo. Keluar tenda di siang hari berpayung saja tidak cukup bagi saya. Perlu kanebo dingin menempel di kepala saya.

 photo IMG_20180820_142324_zpsnozs3eur.jpg

.

“Main course”

9 Dzuhijjah ba’da isya kami kembali gotong koper, naik bus, untel-untelan, menuju kawasan yang disebut Mina Jadid (separuhnya masuk Muzdalifah, separuhnya Mina). Maktab no. 8 lagi. Tenda di Mina ber-AC. Dingiiinn. Brrrr… Kontras banget ama cuaca di luar tenda.

.

Jelang Dzuhur di Mina.
AC-nya banyak. Alhamdulillah di dalam terasa lebih nyaman dari tenda di ‘Arofah.

Tenda  JKG 59 di Mina photo IMG_20180821_181831_zpsjjsy6bj4.jpg

Alhamdulillah tenda kami ketika di ‘arofah dekat dgn 2 toilet, satu toilet berpintu 20, satunya berpintu 40 plus 3 pintu yg closet duduk, sehingga antriannya hanya 2-3 orang.

Sedangkan di Mina…… ujiannya memang ini diaa, jumlah toilet yang sangat terbatas, hanua 15 pintu, dipakai oleh 4 kloter, dan… jamaah indonesia yang sangat rajiiinn sekali… mandi dan mencuci pakaian, sehingga yang mau BAK BAB antriannya bisa 2 jam. Daaann… Baru sebentar di dalam, baru bebenah supaya nggak ada yg berjatuhan ke lantai kamar mandi, sudah ada yang nggedor-gedor “jangan lama-lama buu”

Jiah…. itu kalo mau BAB diburu-buru kayak gitu bisa jadi batal keluar dahh πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ …..

Nahh giliran diye-diye yang masuk, ya mandi lahh, nyuci lahh.. Kagak mikirin antrian… Hahaay arek bonek dilawan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ …..

#istighfar

Saya tidak mandi. 😁 karena airnya panas, resiko tinggi dehidrasi dan gangguan kulit gatal merah….. Saya nggak mau lagi, ngerepotin banyak orang.

Mandinya mandi kucing.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Di dalam balutan kain sarung dan mukena jumbo. Gosok-gosok badan pakai waslap basah, keringkan dengan handuk. Ganti semua pakaian.

Bersih-bersih di dalam tenda saja, dibantu emak-emak ‘nutupin menghijab-in proses “mandi” di dalam mukena jumbo…. Ganti-gantian.

.

Buah favorit saya. Mood booster.

 photo IMG-20180822-WA0010_zpszv9931hv_edit_1535423904293_zps98khftck.jpeg

.

Ketika batal wudhu, mau berwudhu lagi, antrian panjang, suhu 43-45 derajat celcius, dan panasnya air wudhu ….. akhirnya byk yg wudhu di sudut luar tenda, berbekal mukena jumbo dan sarung sbg hijab agar aurat tetap terlindungi…. Wudhu dgn sedikit air minum kemasan…

Keesokan harinya, pintu – pintu toilet sudah ditulisi,

“khusus BAB / Mandi”

“Khusus Pipis”

“”Khusus Lansia”

Nhaaaah kan enaak kalo gini, lebih manusiawi antriannya. Meski tetep aja ada emak-emak yg coba-coba ngawur antri, langsung dapat “sangsi sosial” diingetin banyak mamak, he he he.

.

Tiap 3-4 jam saya jadwalkan ke toilet meskipun belum kebelet BAK. …. Alhamdulillah banyak pertolongan Allah, banyak ibu yg lapang dada mempersilakan saya masuk toilet duluan ….. Atau saya seperti “diarahkan” ke pintu toilet yang, antriannya hanya 2 orang , Ω…Ψ§ Ψ΄Ψ§Ψ‘ Ψ§Ω„Ω„Ω‡

.
Contoh menu sarapan kami.

 photo IMG_20180822_064106_zpsc3gmxhul.jpg

.

Duo nenek yang semangatnya hebat. Tadinya saya pikir beliau berdua kakak adik. Ternyata ibu dan anak.

 photo IMG_20180822_065432_zps2palmbuf.jpg

.

Dessert

Lontar jumroh pertama, saya dibadalkan suami. Sediih rasanya nggak bisa ngerjakan sendiri. Tapi saya nggak mau mbantah. Saya hanya berdoa, berdoa, berdoa, Ya Rabb mohon beri hamba kekuatan, pertolongan, ijin-Mu, menyempurnakan rukun dan wajib haji dengan fisik hamba sendiri.

Keesokan sorenya saya ngobrolin ulang harapan saya untuk diijinkan melontar jumroh kedua dan ketiga. Suami menjawab, “Kemarin aku ngelarang kamu karena kita sama-sama belum tahu medannya, dari tenda ke jamarat itu sekitar 7 km, jalannya agak menanjak, PP jadi 14 km. Jumroh kedua dan ketiga akan dilakukan rally, ngga pake balik tenda, langsung ke hotel, total sekitar 9 km. Aku yakin kamu bisa. Ini, minum yg banyak, ini buah-buahan habiskan ya, ini neurobion minum sehari 2x ya. ”

Saya ‘nurut.

Perjalanan dari tenda di Mina, menuju jamarat (jumroh kedua), keluar jamarat, sholat subuh di jalan, muter balik menuju jamarat lagi (jumroh ketiga), keluar jamarat menuju hotel dan qadarullah pake sedikit nyasar, total 5 jam jalan kaki, akhirnya sampai juga di kamar 515. Alhamdulillah.

Meskipun… 2 km terakhir saya mulai rungsing. Kayaknya kemarin lihat di google map, dari jamarat sampai hotel itu jaraknya kurang dari 2km dehh. Jalan kaki 30 menit. Ini sudah sejam lebih kok belum sampai. Punggung, pinggang, paha, betis, tapak kaki berasa rontok haha. Suamiku nanyain, gimana Fi, apa yang dirasa, masih kuat Fi, ini minum lagi ya.. Saya jawab: lagi nggak mau ditanya-tanya, lagi nggak mau disuruh-suruh… Wakakakk. πŸ˜‚πŸ˜‚

Hikmah:

Ketika hati lapang, ridha, sabar, pasrah berserah diri kpd Allah saja, selalu ada jalan keluar, solusi yang asyik, dan in syaa Allah semua “jamuan” Allah jadi terasa lebih ni’mat. Alhamdulillah.

.

 photo IMG-20180823-WA0003_zpsegdltvkd.jpg

.

Terima kasih atas doa-doa sahabat semua…. Saya sudah mendoakan semua titipan doa ……. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita semua…. Aamiin…