Self-talk.
Lagi pen ‘ngingetin diri.

Kematian, adalah pelajaran terbaik. Bukan untuk ditakuti. Bukan untuk dihindari. Tapi dipersiapkan bekalnya dengan sungguh-sungguh. Kita mau berpulang dalam keadaan bagaimana? Dalam ketaatan? Setelah sholat? Selesai baca Quran? Sedang dalam perjalanan melakukan amal kebaikan?

Jangan terlalu mengkuatirkan bagaimana keadaan orang-orang sepeninggal saya. Semua sudah diatur sama Allah, jalan hidupnya.

Nikmati saja hari ini, yuk lebih sering, ngobrol, berpelukan, ngasih wasiat, apa harapan-harapan kita. Karena cepat atau lambat, kita pasti berpisah. Entah siapa duluan.

Perpisahan sementara, in syaa Allah…. Harapkanlah yang terbaik: reuni di surga. Reuni dengan semua orang yang kita sayangi, dan yang sayang sama kita…

Jangan fokus pada rasa kuatir bagaimana nasib dunianya. Persiapkan saja bekal terbaik semampu kita, untuk anak-anak. Bagaimana kebiasaan sholatnya. Bagaimana kebiasaan baca Qurannya, bagaimana kekuatan Tauhidnya (ketergantungannya kepada keMahaKuasaan Allah).

Kalo masih bayi/balita. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik. Doa seorang ibu untuk anaknya, itu Mustajab.

Kalo sudah bisa diajak diskusi, dilibatkan dalam beramal shalih. Libatkan. Minta bantuannya, ngasih sedekah. Bikin halaqoh Quran tiap maghrib (matikan tv, silentkan hp) dan sebagainya.

Semoga Allah memberi kita keturunan yang shalih, shalihaat. yang senang mendoakan orangtuanya. 🤲🤲

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina Qurrota a’yun waj’alna lil muttaqiina imama.

(Doa minta diberikan keturunan yang sholeh dan pemimpin bagi kaum yang bertakwa)

Quran Surat Al Furqan ayat 74.