.

13 Maret 2018.

Sejak mengetahui adanya benjolan di dada kanan, saya mengadukan keresahan pada Tuhan, ini apa? Kanker kah? Ganaskah? Pingin ke dokter, tapi dokter yang mana? Ini ‘kan wilayah sensitip. Bakalan bolak balik.. dibuka, diraba, ditrawang.. Jangan pake nyanyi bacanya. 😊

Mau bertanya sana sini, ada rasa enggan, takut jadi ribet malahan. Bertanya juga pada seorang sahabat, dia cuma menyarankan cari dokter bedah. Tapi tak sebut nama. Suamiku nanya, “Kamu mau sama dokter bedah perempuan? Kita googling yuk.”

Saya sholat istikharah, mohon petunjuk, dokter mana yang terbaik untuk saya, tolong kasih tandanya, apalah-apalah. Saya nggak tahu yang mana. Saya hanya mau konsultasi dan tindakan sama dokter perempuan, kalo bisa yang seiman.

Pertama telepon RS MMC Kuningan, tapi sayangnya Dr Farida sedang umroh, sedangkan saya pingin secepatnya “dibongkar” supaya ketauan ini tuh apa. Makin lama “si dia” bersemayam di dadaku, makin stress aku. 😊

Lewat mbah Google suamiku menemukan profil Dr Alfiah Amirudin di RS Mitra Kemayoran. Prakteknya hari Senin siang, qadarullah suami tidak bisa mendampingi saat periksa. Saya minta temenin, mama. Sebetulnya nggak tega ngasitau mama, takut nambahin beban pikiran. Tapi saya butuh banget doa beliau.

Waktu lihat ekspresi Dr Alfi ketika mengobservasi dan melihat hasil mamografi dan USG saya, ada raut prihatin di wajah beliau, “Keras, tapi masih kecil sih, semoga bukan ya. Tapi saya nggak berani biopsi. Kuatir kalo ini jenis yang ganas, kena jarum biopsi dia marah. Saran saya, operasi, pisahkan dari rumahnya, pisahkan dari sumber makanannya, baru dibiopsi.”

Selasa saya tanda tangan jadwal operasi hari Kamis jam 6 sore. Masih ada waktu dua hari dua malam, untuk kembali bermunajat, mohon petunjuk-Nya, bener nggak sih keputusan saya, atau ada opsi lain yang lebih baik, tolong kasih tandanya. Baca Quran berlembar-lembar. Sebagian simpanan logam mulia, saya infaqkan. Berharap kekuatan, kesabaran, dan pertolongan-Nya.

Saya nggak tahu apa-apa. Saya merasa tak berdaya. Saya cuma punya rasa takut. Takut salah keputusan. Tapi saya juga punya rasa yakin dan percaya Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya berserah. Whatever will be, will be.

Pun ketika hasil patologi dan IHK (imunohistokimia) keluar, hasilnya triple plus. Saya dirujuk ke Dr Findy KOHM (Konsultan Onkologi Hematologi Medik). Kayak mimpi, “Jadi beneran gue kena cancer nih?”

Sebelum ketemu dokter Findy, saya istikharah, mengadukan kegalauan saya, “Dr Findy galak nggak yaa, baek nggak yaa, komunikatif responsif nggak yaa, pintar empati nggak yaa, sabar nggak yaa. Ya Rabb, kasih saya kekuatan, kesabaran yang berlimpah.”

Alhamdulillah pertemuan pertama dengan Dr Findy memberi saya kesan positif. Saya merasa nyaman, bertanya apa saja dengan beliau. Masih muda, 30an. Pilihan kata-katanya cerdas, efektif menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.

I trust her.

Kemoterapi adalah momok, mengerikan sangat. Tapi untuk kasus IHK saya yang “paket komplit” ini tidak ada pilihan lain. Harus kemoterapi, secepatnya.

Saya tanda tangan untuk kemoterapi pertama. Sabtu 12 Mei 2018. Dan melanjutkan istikharah, “Bener nggak sih, Ya Rabb, keputusan saya ini, atau ada opsi lain kah, mohon petunjuk-Mu, Wahai Yang Maha Mengetahui.. Hamba berserah diri.”

Begitu pun, ketika harus menjalani terapi target Herceptin 18 kali. Tiap tiga pekan, infus. Harga per ampul sekian belas jutaan. Harga yang infusan di atas 20juta per kantong. Hitung saja kalo 18 kali jadi berapa totalnya. Ya Rabb, uang sebanyak itu bisa dapet dari mana, ngga kelihatan.

Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan Allah saja. Kami tetap berjalan dengan keyakinan: Allah ngasih ujian, pasti sepaket dengan kunci jawabannya. Pikiran, ucapan, adalah Doa.

Agar selaras dengan doa, ikhtiar langit kami lanjutkan. Perbanyak rakaat sholat, perpanjang sujud, mohon ampunan, berserah pasrah. Saya perbaiki hubungan silaturahim. Sedekah, wakaf, baca Quran lagi.

Operasi. βœ”οΈ
Kemoterapi. βœ”οΈ
Radiotherapy 30x. βœ”οΈ
Targeted therapy 18x. βœ”οΈ selesai.
Sekarang sedang terapi hormon, minum dua tablet tamoxifen tiap hari, selama 5 tahun.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan mengabulkan doa semua orang yang sayang sama kami. 🀲Aamiin. 🀲

===

Ditulis ulang untuk dibagikan sebagai ungkapan syukur, terimakasih pada keluarga dan sahabat, semoga menjadi inspirasi, motivasi sesama mukmin, fastabiqul khairat. πŸ’–πŸ’–πŸ’–