Hijrah saja, niscaya lebih menenangkan.

Ada yang bilang, hidup ini segalanya tentang Pilihan. Saya meninggalkan MLM, juga karena pilihan. Walaupun sempfet jalan-jalan ke Yunani dan makan bonus belasan juta per bulan dari modal “tutup poin” setengah jutaan.

Saya bersyukur pernah gabung MLM, banyak mendapat ilmu tentang leadership, marketing, mengelola mindset, bahkan parenting, melalui pelatihan, seminar, workshop yang diselenggarakan kantor dan club yang menaungi saya.

Sejak 2006-2007 saya dapat banyak masukan dari orang-orang shalih/shalihat yang saya kenal, MLM menurut syariat Islam. Awalnya shocked 😨 , pertanyaan saya:

Dua ustadz kondang punya bisnis MLM. Teman-teman di pengajian sebelah, juga ikutan MLM produk kesehatan dari Malaysia, negara yang menurut saya penerapan syariat islamnya lebih maju dibanding kita. Koq MUI nggak bunyi?

Dan selama 2 tahun berikutnya saya lebih sering lagi duduk di pengajian, dengan niat : mencari dalil-dalil pembenaran-pembenaran bahwa usaha yang saya jalani, halal.

Tahun 2009 saya mulai gamang. Kemudian saya putuskan untuk sholat, berdoa, mohon diberi petunjuk, ketetapan hati untuk memilih. Saya pasrah. “Ya Rabb, tolong kasih tandanya. Tolong kasih tandanya. Please.”

Here you go…

Hubungan yang sangat baik dengan para aplain, mulai bermasalah. Pengiriman bermasalah. Hutang dan piutang bermasalah. Daunlain “dicuri” group lain. Saya yang prospek, saya yang presentasi, saya yang follow up, orang lain yang closing. Dan dibiarkan oleh perusahaan. Tidak ada sangsi hukum. Stok barang pun bermasalah. Saya harus meyakinkan jaringan dengan alasan-alasan positif. Saya masih aja keukeuh bertahan.

Pernah bertanya pada seorang top leader, “Bu, kita presentasi bisnis koq jadi kayak, semua pilihan cari duit itu salah ya, kecuali MLM kita? Koq jadi kayak cuci otak. Belokin keyakinan orang.”

Tau ga beliau jawab apa?

“Ya emang harus gitu. Gimana sih kamu, kemana ajaaa selama ini? ”

Degh…..

Hati saya berontak, “Ini salah Fi…. Allah ngasih rezeki lewat mana, aja yang Dia kehendaki… Buka mata, telinga, lihat, dengar… Banyak banget hamba-Nya yang pencapaian hidupnya hebat, lewat jalur lain. Mereka juga sama bekerja kerasnya.. Lihat.”

Apakabar Tauhiid.
Apakabar ilmu ma’rifatullah.
Apakabar ilmu asmaul husna.
Apakabar iman. 😭

Saya lupa kapan memutuskan hijrah, kira-kira tahun 2013 saya tidak lagi memperpanjang masa keanggotaan saya di perusahaan itu. Saya jualan baju, yang untungnya cuma 20-30ribu per helai. Geret koper ke pengajian-pengajian, bawa koper kopdar emak-emak, dan gelar lapak lewat medsos. Saya belajar mematikan ambisi dunia (yang ingin kelihatan sukses, hebat, keren). Astaghfirullah wa atuwbu ilaih.

You know what happen on the next two years?

Bukan hanya bisa tidur nyenyak, Allah gantiii dengan anak yang hafal Quran 30 juz, Allah ganti dengan perjalanan umroh, dua kali di tahun 2015, umroh bareng suami, Allah beri rezeki jalan-jalan ke luar negeri lebih sering, Singapore, Malaysia, Thailand, Oman, Jordan, Turki, dan negeri para Nabi… Palestine.

Kendaraan juga, Allah ganti yang baru. Yang jauh lebih baik. Yang nggak pernah saya kebayang sebelumnya.

Tahun 2018 Allah ngasih saya bonus perjalanan Haji dan… kanker. Saya bersyukur dan amat sangat berharaaapp banget, melalui perjuangan pengobatan kanker ini, Allah berkenan men-delete dosa-dosa saya, semuanya.. Aamiin. 🀲

Hidup ini memang tentang impian. Semua orang bebas memilih jalannya. Saya memilih untuk lebih mendekat kepada taqwa. Karena impian saya, husnul khatimah, terbebas dari hisab, masuk surga-Nya. 🀲 dan “aamiin” saja tidak cukup.

Wallahu’alam bish showab.

Mohon maaf lahir bathin. πŸ™