Setelah dua puluh purnama, saya kembali berselera makan alpukat. Koq bisa?

Awal 2018 saya pernah menjalani ketofastosis. Puasa sekian belas jam, salah satu menu buka puasanya, buah ini. Setiap hari.

.

Beberapa hari sebelum kemoterapi pertama, 12 Mei 2018, saya kembali menganut pola makan karbohidrat. Sumber karbo saya makan dari sayuran dan buahan warna-warni yang kaya antioksidan. Tapi belum tertarik makan alpukat sampai pagi ini. Sarapan sayur, sudah. Masih craving. Pingin ngganyem.

.

Teringat paket pesanan saya sama Mbak Dyan @dapur_mandaa Dyan Kalandra Shs jenisnya alpukat mentega. Beli 3 kilogram, saya cek, semuanya dalam keadaan, pas matang bagus, pilih dua butir, siram jeniper, minyak zaitun, bubuk daun kelor, lada, garam, rasanya so-yummy. πŸ’– Ma Syaa Allah tabarakallah.

Sebelum komentar ‘nanya, “Gimana tu, rasanya? Emangnya enak?” Sebaiknya baca dulu yang ini, yaa 😊😊

Jauh masa sebelum kena kanker, walaupun belum istiqomah, saya sudah membiasakan diri memilih makan makanan yang halal dan thoyyib.

Jadi, sekarang, ketika nasehat dokter hanya boleh makan makanan yang sehat saja, saya harus memperkuat Mindset: semua makanan sehat itu Enak, atau enaaakk banget.

Saya juga banyak nonton tutorial #vegan di IG dan uji coba di dapur sendiri. Rasanya enak-enak aja, ada yang seger kayak asinan Bogor, ada yang manis kayak es krim atau panekuk cokelat, ada yang pedes kayak gulai.

Jadi kalo saya lagi semangat posting menu sarapan atau kudapan saya, kamu nggak usah nanya rasanya gimana, karena kamu nggak pernah jalanin pengobatan kanker. Bersyukurlah kalo saat ini kamu masih punya pilihan makan junk food.

It’s all about mindset.

Mindset saya: Semua makanan itu enaak, atau enaaak banget, ketika dia halalan thoyyiban. Thoyyiban/ baik / sehat menurut standar ahli gizi. Bukan standar lidah orang awam yang nggak punya riwayat kanker. πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™

.