Pasca berbagai terapi medis yang telah saya jalani dua tahun terakhir, bukan hanya sel kanker yang dimatikan, termasuk juga sel baik. Tubuh ini diberikan kesempatan regenerasi sel baru. Hal ini membutuhkan masa yang lebih panjang dari pada terapinya sendiri. Idealnya seumur hidup.

Pertama, yang sering banget dinasehatin dokter. Semua dokter yang saya tanyain. Mulai Dr Findy KHOM, Dr Ratna Dr Victoria Dr Rully (Tim Radiotherapy RS Gading Pluit), Dr Aidia Fitri (yang mengUSG saya kemarin). Intinya: berikan hak tubuh, mendapatkan hanya yang terbaik, halalan thoyyiban.

Mantan sama daging merah ya, dan masakan yang dibakar kayak satee, barbecue. Kurangi makan masakan yang digoreng. Kalo mau makan makanan yang digoreng, goreng sendiri, pakai minyak kelapa, minyak baru. Jangan makan makanan yang sudah ulang kali diangetin seperti gudeg atau rendang.

Mantan ama gula pasir dan semua makanan minuman bergula pasir. Untungnya selera saya bukan peminum teh manis, bukan penganut ritual sarapan roti manis, cake, bakery. Godaan terkuat palingan kastengelz-nya Ena Lubis

Mantan ama camilan kemasan pabrik, karena mengandung pengawet makanan. Mantan juga sama artificial additional, makanan yang mengandung zat-zat kimia tambahan seperti, pemanis buatan, pewarna, dan MSG. Walaupun menurut BPOM, aman dikonsumsi.

JadI makan apa dong?
Riil food.
Sayuran organic. Buahan organic. Makanan yang pengolahannya sesederhana mungkin. Petik, kupas, makan. Petik, cuci, kukus, makan. Petik, cuci, rebus bentar, makan. Masih banyak pilihan ikan-ikanan, bisa dipindang, dipepes, dikukus, dioven. Semoga Allah selalu cukupkan rezeki kami dan dimudahkan untuk mendapatkan halalan thoyyiban. 🀲

Jujur ini tantangan yang berat buat saya yang celamitan dan pemakan segala. Saya butuh dukungan banget dalam menjaga pola makan ini.

Kedua, istirahat cukup, kalo nggak mampu dapetin deep sleep usahakan sudah tidur jam 9 malam. Lakukan persiapan yang perlu dilakukan untuk mempercepat ketiduran, seperti membaca buku, matikan lampu kamar, nyalakan aroma terapi relaksasi, mandi air hangat olesin body lotion wangi lembut, sholat, berdoa, baca Quran, dan sebagainya.

Ketiga, olahraga, yang low impact ya. Untuk membangun kembali kekuatan otot, dan menjaga daya tahan tubuh.

Keempat, manajemen stress, yang orang sono bilang, ikhlas, sabar, ridha, jangan gampang kesel, jangan kelamaan keselnya.

Saya masih sensitif denger kalimat, “Nggak bisa” padahal belum dicoba, belum dijalanin, belum diusahain all out. Saya juga masih gampang senewen ngadepin orang mangkir janji. Saya masih reaktif sama orang sok tau tapi ngatur-ngatur.

Kalo ngadepin netijen yang belum akrab belum pernah ketemu tatap muka, udah komentar sok bijak sok iyee sih. Liat-liat lagi timelinenya, siapa nih orang, kecenderungannya gimana. Kalo saya sreg, saya abaikan. Tapi kalo kurang garam, saya garemin. Ehh jangan. Blokir aja. Males eyel-eyelan. Wong saya nulis kadang cuma buat ngelepasin uneg-uneg doang koq, bukan buat dinasehatin di depan khalayak pemirsa.

Pasti akan selalu ada orang-orang, sikon-sikon yang ‘ngaduk-aduk emosi. Pilihannya banyak juga, tahan diri, abaikan, pindah fokus, blokir, unfriend, unfollow, atau bayangin badan dia muka donal bebek. Yahhh jalanin aja semampunya, sekuatnya. Jadi diri sendiri dan tetap memperbaiki diri. Semoga Allah menolong kita ya Mak. 🀲