Jangan pernah berpikir, anak saya tidak berhak bahagia, anak saya tidak berhak sukses, karena saya bukan dari keluarga mampu. Jangan mendahului takdir. Dosa!

Melihat hidup orang lain yang menurut kita lebih baik, kalo kita merasa kepingin, berdoalah, minta kepada Allah, dan minta petunjuk mulai darimana, gimana caranya, kemampuan apa saja yang perlu saya pelajari dan latih.

Semua keberhasilan, itu hanyalah semata-mata karunia Allah. ….. Tidak akan terjadi, tanpa ijin Allah. Tidak akan berhasil tanpa petunjuk Allah. Tidak akan terbuka jalannya, tanpa pertolongan Allah.

Libur telah tiba. Keluarga kami tidak selalu pergi berlibur keluar kota. Sering juga hanya keruntelan di rumah, masak nasi goreng, pepes tahu tempe sambel lalap.

Acara makan siang / malam bersama anak-anak, picnic, atau keruntelan di kamar. Adalah moment setting mindset, pola pikir, membangun visi misi bersama, diskusi saling menginspirasi kebaikan, antara orangtua dan anak-anak.

Orangtua juga harus merendahkan ego, berani minta maaf sama anak, kalo caranya salah. Karena orangtua manusia biasa, tidak sempurna.

Orangtua bukan superman, bukan superhero. Saya merasa tidak kompeten mengajar matematika, fisika, kimia. Saya minta bantuan suami, atau mertua, atau orang lain yang pinter ngajar. Tapi kalo bahasa inggeris, ilmu sosial budaya, biologi, okelah, bagian ibuk.

Orangtua juga perlu belajar lebih banyak bertanya dan mendengarkan, dari pada menasehati. Sehingga anak-anak merasa lebih nyaman cerita sama orangtua, tidak takut dimarahi karena melakukan kesalahan. Kesalahan adalah pelajaran. Kesalahan adalah nasehat.

Ada saatnya juga, orangtua menanamkan disiplin. Contoh: ketika satu bukunya ketinggalan di rumah, saya tidak pernah membantu, mengantarkannya ke sekolah. Tega? Ya. Tegas, tapi nggak harus marahin anak, kan. ๐Ÿ˜Š dan anak belajar dari kesalahannya, lebih sungguh-sungguh mempersiapkan bekal sekolahnya secara mandiri.

Ada saatnya juga saya ketelepasan marahin anak. Manusiawi, lah. Suami saya palingan komentar, “Kalo marah, berarti kalah pinter sama anak. ”

Tiap anak, unik. Karakternya berbeda. Cara dan gaya mendidiknya pun, berbeda. Orangtua yang paling kenal anaknya, paling paham, paling mengerti waktu – waktu dan cara-cara terbaik menanamkan visi misi keluarga.

Jangan sok-tau. Merasa kalo bukan saya yang menangani, anak saya bakalan kenapa-napa. Astaghfirullah. Istighfar. Taubat. Anak-anak kita adalah titipan Allah. Maka orangtua harus sangat yakin, bahwa anak-anak tidak akan disia-siakan Yang Empunya. Mau pergi haji, umroh, atau sedang diuji sakit berat, titipkan kepada Yang Empunya. Kemas dengan doa-doa terbaik dan kepasrahan. Allah Sebaik-baik Pelindung dan Pemberi Rezeki.

Ma Syaa Allah tabarakallah.
Mohon maaf bila kurang berkenan. Semoga bermanfaat, ya Mak.