Banyak yang japri, nanya, di Madinah belajar apa? Koq bisa sih, tanpa mahram?

Begini…

Tiga bulan yang lalu..
Wakil rektor di kampusnya, LIPIA, meminta kakak kelasnya Raihanah untuk mencari akhowat yang kompeten untuk belajar matan Al Quran di Madinah.

Kualifikasinya, hafal 30 juz dan bahasa Arab nya aktif lancar.

Kakak kelasnya Raihanah, tahunya, adik kelas yang hafal 30 Juz, itu, ya Raihanah dan Jihan, secara dua gadis ini yang bolak-balik MTQ dalam dan luar negeri, kategori 30 Juz dan tafsir bahasa Arab.

Bukan LIPIA yang membiayai. Tapi dari Saudi memang ada dana untuk penghafal dan pembelajar Al Quran.

Bukan LIPIA yang membantu mengurus dokumen visa dan sebagainya, tetapi travel umroh tertentu yang dipilih oleh sponsor.

Visanya visa umroh, maksimal bisa 30 hari. Mahramnya, dimahramkan entah siapa, itu ada namanya di visa.

Kegiatannya ngapain aja selama sebulan di sana?

Pertama, umroh.
Kedua, murojaah hafalan, setoran hafalan pada syaikh-syaikh, guru-guru Al Quran di Madinah.
Ketiga, belajar matan Al Quran.
Keempat, ini optional, besar harapan kami, anak-anak bisa sekalian mendapatkan sanad. Wallahu’alam. Kami berserah kepada Allah, bagaimana yang terbaik saja.

Ma Shaa Allah tabarakallah. ๐Ÿ’–