Kalau manteman takjub membaca cerita keluarga kami… Tolong..

Tolong. Jangan puji anak kami. Jangan puji orangtuanya. Karena pujian-pujian itu bisa membinasakan. 😭😭😭 Naudzubillahi min dzalik.

Pujilah Allah dengan kalimat “Ma Syaa Allah tabarakallah”

Sungguh, ikhtiar kami tidak ada artinya sama sekali, tanpa hidayah dan pertolongan Allah. La haula wala quwata illa biLLah.

Jika ada terselip harapan pencapaian yang sama, maka doakanlah kami, mintakan ampunan atas dosa-dosa kami, mintakan perlindungan atas diri kami dan keturunan kami dari gangguan syaithan dan sekutunya, dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya, dari fitnah, bala’ musibah, penyakit dan hal-hal yang tak diinginkan. Mintakan kepada Allah, agar kami dikuatkan istiqomah dalam iman Islam, mencintai Al Quran dan syahid / husnul khotimah.

Semua doa, akan kembali kepada yang mendoakan.

Jika kami ditanya, caranya bagaimana, kami hanya bisa berbagi cerita pengalaman, ikhtiar-ikhtiar sederhana, tidak ada amalan spesial. Sama seperti keluarga awam. Tidak suka nonton tivi. Lebih suka membaca, novel, majalah, atau traveling.

Alhamdulillah kami dikasih keterbatasan ekonomi ketika anak-anak masih kecil, sehingga sekolahnya di SDN. Sekolah Dasar Negeri, yang SPP-nya gratis.. Boro-boro les balet, piano, bimbel aja baru di ujung kelas enam sebagai persiapan UAN.

Kami juga hanya bisa ngasih pilihan, mau melanjutkan SMP SMA di pesantren, atau tetap di sekolah negeri. Pesantren kan tetep aja, mahal. Betul, dan kami sudah komitmen akan mengusahakan yang terbaik, kalo perlu jual asset, atau berhutang, agar anak-anak bisa mendapat lingkungan yang sholeh.

Si sulung konsisten di sekolah negeri. Okay diijinkan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Cari sekolah negeri yang prestasi lulusannya banyak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, dan yang ROHIS-nya aktif, dan anak ini wajib aktif juga di ROHIS, kata kuncinya “aktif” yaa, bukan gabut, dan lokasi sekolah tersebut dekat rumah supaya nggak terlalu kecapekan kalo lagi banyak tugas.

Enaknya lagi, jaman anak-anak sekolah dulu, kami baru mampu beliin henpon yang cuma bisa teleponan dan sms-an doang. Alhamdulillah.

Saya tidak melanjutkan bekerja kantoran, palingan dagang baju dari pengajian ke pengajian, fokus dampingi si Sulung di SMP dan SMA. Alhamdulillah anak ini tanggung jawab dengan pilihannya. Jelang ujian pasti nggak mau diajak kemana-mana. Belajaaarr melulu. Bahkan seringkali, makan pun masih perlu disuapin. Setahun terakhir SMA barulah kami masukkan bimbel, persiapan SBMPTN.

Allah ijinkan masuk Fakultas Ekologi Manusia Jurusan Ilmu Gizi, institut pertanian Bogor, melalui jalur nilai rapor. Tanpa tes tulis SBMPTN. Saya kembali mengingatkan, ibu ridho kamu masuk PTN asal belajar tahsinnya dilanjutkan. Empat pekan pertama yang saya cecar, gimana, kapan mulai tahsin. Alhamdulillah Masjid Al Hurriyyah IPB ada kelas tahsin, dan si kakak gabung.

Semester pertama, Alhamdulillah IPnya empat. Ma Syaa Allah tabarakallah. Saya pernah ngomong, coba iseng-iseng caritahu info jalur beasiswa Nak. Nggak serius-serius amat juga. Alhamdulillah semester 5-6 dikasih Allah, beasiswa dari salah satu bank asal Malaysia.

Peran ayah.
Suamiku, rajin sholat di masjid, rajin membaca Al Quran setiap hari, rajin shodaqoh, rajin sholat malam, rajin bebenah rumah dan sangat memuliakan perempuan-perempuan di rumah ini. Super sabar. Ma Syaa Allah. Tidak ada manusia sempurna. Beliau tipe plegmatis melankolis, salah satu keunggulannya, beliau telah setia bekerja untuk satu perusahaan, selama lebih dari dua puluh lima tahun. Kata orang, di sana gajinya kecil. Benar. Tapi rezeki dari Allah bisa lewat mana saja lohh. Pas butuh bayar uang kuliah anak, pas bonus turun. Allah Maha Kaya, Maha Mencukupi.

Peran para eyang.
Beruntung banget kami dapat orangtua yang “terserah kalian” mau didik anak pakai pola asuh kekgimana, mereka menyesuaikan diri, mendukung, mendoakan. Walaupun iya kadang ada juga eyel-eyelannya. Terutama di awal kami berniat memasukkan si bungsu ke pesantren. Alhamdulillah akhirnya sepakat juga.

Peran ibu.
Bukan cuma jadi ojek/supir antar jemput. Saya sempat perkenalkan anak-anak kepada teman-teman saya yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, pengacara, arsitek, guru ngaji, dosen, dan lain-lain. Agar supaya anak-anak kenal beragam peran mulia di dunia ini. Tiap abis sholat, istighfar, lalu doain banyak orang, doain orangtua, doain anak, doain anak orang juga. Saya percaya, kekuatan doa, baliknya ke yang berdoa juga. Sejak kuliah saya sudah suka, hadir seminar parenting. Waktu masih ngantor juga pernah rajin seminar workshop leadership. Jadi pas punya anak, tinggal praktekin mana yang cocok. Sampai sekarang juga saya masih senang, belajar. Uang jajan dari suami, saya pakai kursus bahasa Arab, dan kursus tahsin (lagi). Tiada hari tanpa membaca buku / mengerjakan tugas. Ma Syaa Allah. La haula wala quwata illa biLLah.

Ya gitu deh, hidup ini kayak naik 🎒 rollercoaster. Nanjak, nukik, degdegan, ngeri-ngeri sedap, histeris, bahagia. Jalani takdir. Banyak-banyak bersyukur. Banyak ridha banyak sabar karena kesempurnaan hanya milik Allah. Menulis, mengingatkan diri sendiri. Astaghfirullah wa atuwbu ilaih.

Semoga bermanfaat.
Terimakasih telah mendoakan kami. πŸ™