Pernah ada nih, temen SMA saya, cewe, waktu saya masih dalam pengaruh obat kemoterapi tahun 2018, ketika saya lagi on-fire menulis sebagai bagian dari healing process juga, dia komentar gini, “Fi, elo nulis cerita tentang sakit loe, belom tentu semua jempol yang ngeLike postingan loe, beneran suka… ihh kesusahan dipamer-pamerin. Dan bisa jadi mereka ada yang malah seneeng loe kena penyakit dan sengsara. Sukurin. Rasain.”

inhale.. exhale.. 😊

Gini, yaa Cangkang Telor… Gue udah tauuk, kita hidup dimana pun, kita melakukan apapun, pasti ada aja orang yang gak demen, dan merasa girang kalo kita kenapa-napa.

Kita niyh kalo waras, begitu tahu teman atau sahabat kita sakit keras, atau kena musibah apalah-apalah, pasti yang muncul di otak, “Apa yang bisa saya bantu? ”

Dan kalau kita paham bahwa hati yang senang adalah separoh kesembuhan, kita pasti akan mensupport pasien untuk terus melakukan apapun yang membuatnya happy.

Saya paham koq. Dimana pun kita hidup. Selalu ada manusia bermuka dua. Tapi kita kan diperintahkan berbaik sangka. Husnudzhon. Apalagi friendlist saya baik-baik aja sama saya, selama ini nggak ada masalah. Mosok gue harus paranoid. Saya ini sakit kanker, bukan sakit jiwa.

Lagi pula, yang saya tulis bukan keluhan. Tapi bagaimana saya berjuang untuk kembali lebih sehat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saya mengajak orang-orang senasib, ayoo tetap semangat ikhtiar. Lakukan apapun yang memang sudah seharusnya dilakukan. Dan berserah diri kepada Yang Maha Berkehendak.

Kita tidak bisa menutup mulut semua orang. Tapi kita bisa menutup dua telinga kita. Pakai kacamata kuda. Jalan terus. Semoga Allah selalu melindungi dan melimpahkan pertolongan-Nya.

===

Salad buah ini lebih enak dari yang kemarin.