Adik semata wayangnya suamiku baru saja sepekan lalu operasi laparoskopi membuang batu-batu empedunya.

Gejalanya seperti sakit maag, tapi nyeri hebat di bagian perut sebelah kanan, sampai keringetan, lemes. Minum obat maag, ga ngefek. Injeksi obat pereda rasa sakit malah jantungnya berdebar-debar. Inikah namanya cinta?

Ada kawannya yang menyarankan terapi makan buah apel. Tapi karena sudah nggak kuat menahan sakitnya, adikku minta dioperasi secepatnya. Akhir tahun banyak dokter ahli yang cuti sampai tanggal 6 Januari 2020. RS Hermina, RS Mitra Keluarga Depok, RS Univeritas Indonesia. Zonk!

Alhamdulillah lewat bantuan seorang teman kuliah beliau, ‘nemu juga dokter spesialis bedah digestive yang nggak kelamaan cutinya. Pindahan lah mereka ke RS Fatmawati.

Senin observasi ulang. Selasa langsung tindakan laparoskopi. Hanya dilubangi, dan batu empedunya dihisap oleh alat teknologi canggih. Tanpa sayatan di ototnya, diharapkan luka bekas operasi ini lebih cepat kering, sembuh, dan perawatannya nggak terlalu ribet.

Terapi makan buah apel itu bisa saja menghancurkan batu empedu. Ketika jumlah batu empedunya baru satu atau dua butir. Makan 5-10 buah apel setiap hari selama setahun, baru hancur batunya. Lahh kalo sebanyak ini? Terlalu beresiko banget, mempertaruhkan nyawa hanya agar supaya nggak jadi dioperasi.

Tidak semua nasehat “katanya makan ini minum ini sembuh” cocok buat kita. Kasus penyakit setiap orang ‘kan berbeda-beda. Rejeki orang juga beda-beda. Si anu sembuh dengan hanya minum air alkaline, ya karena memang Allah ngasih jalan keluarnya lewat situ, dikasih jenis penyakit yang Allah sembuhkan lewat situ. Tapi kalau ada rezeki untuk pengobatan medis, misalnya BPJS atau asuransi, atau punya asset yang bisa dijual-jualin, tempuhlah jalur medis. Segera.

Semoga Allah selalu melimpahkan ni’mat iman Islam sehat walafiyat, bagi kita semua. 🀲