Petualangan menulisku bermula dari korespondensi, berkenalan dengan teman-teman baru di majalah anak-anak era 80-an.

Sahabat pena pertama saya bernama Inneke Noya, tinggal di Ambon Maluku. Kami saling berkirim kabar cukup intens, minimal sekali dalam satu bulan, saya menerima balasan suratnya. Ngobrolin sekolah, rumah, hobi, dan remeh temeh lainnya.

Sampai kelas enam esde kami mulai sibuk persiapan ujian masing-masing, sampai sekarang, kehilangan kontak.

Di masa SMP-SMA saya berlangganan majalah remaja, yang isinya lebih banyak cerita pendek. Saya mulai menulis buku harian pribadi, isinya lebih dominan tentang perjalanan hati. Ciyee. πŸ’πŸ™ˆπŸ΅πŸ™ŠπŸ™‰

Saya masih melanjutkan korespondensi dengan beberapa sahabat pena tapi karena di sekolah banyak tugas, saya hanya mampu menjawab surat-surat mereka dua kali dalam satu semester.

Ketika kuliah juga saya masih korespondensi dengan teman-teman SMA yang mereka kuliah di ujung pulau Jawa, dan Sumatera. Dua semester akhir sudah berkurang kesibukan, saya mulai berani mengirim beberapa cerpen ke Majalah Anita Cemerlang.

Senangnyaaa, untuk setiap cerpen yang dimuat, saya mendapat honor Rp. 50.000,- itu tahun 1994-1996. Ngambil honornya di kantor pos, dengan menunjukkan KTP.

Tahun 1996 saya mulai sibuk ‘ngantor. Redaksi sudah menelpon saya menanyakan kapan bisa kirim cerita lagi. Sayangnya, saya sama sekali tidak memiliki cukup waktu dan tenaga untuk menyelesaikan satu cerita pun. Tahun 1997 menikah, 1998 punya bayi, dan kesibukan saya bertambah dengan peran domestik sebagai istri dan ibu.

Tahun 2004-2012 saya sempat nengerjakan MLM “anu” dengan ijin Allah meraih pencapaian-pencapaian yang diinginkan, dan pada tahun 2008 saya mulai kembali aktif menulis, dengan harapan, bisa menginspirasi dan memotivasi semakin banyak orang melalui media sosial.

Awal-awal come back menulis, ya gagap pastinya. Apalagi kesempatan menulis sebulan paling sekali. Bahkan kadang vakum sampai enam bulan.

Mulai kenceng lagi setelah kena cancer. Menurut beberapa sahabat, writing is healing. Saya menulis, setiap pekan pasti ada dua atau tiga tulisan. Menulis, melepas rasa, memeluk asa, menggugah karsa.

Banyak yang ‘nyuruh bikin buku. Ya mau aja sih. Tapi saya nggak mau door to door, ketok pintu dari penerbit ke penerbit. Ogah. 😁

Maunya, penerbitnya yang dateng ke saya, kasih saya target, tema ABCXYZ. he he belom jadi penulis aja udah shombhong! 😊😊

Nggak maksud sombong. Tapi efisiensi. πŸ€ͺπŸ˜πŸ™

Saya juga kepikiran bikin e-book, tapi masih galau, mulai dari mana, temanya tentang apa. Jadi sampai detik ini, mengalir aja, semau saya, lagi pen curhat tentang apa, langsung tulis. Kadang tuh ide nongol pas jongkok di toilet, atau pas lagi benenah kamar, atau pas lagi masak, atau pas lagi ngerumpi di cafe, atau abis nobar, atau abis baca komentar orang di medsos, pokok senongolnya ide, eksekusi. Kalo nongolnya pas lagi driving, ya melipir dulu cari parkiran.

Ketika ketemu waktu yang tepat, tidak ditunda, Bismillah, maka kalimat demi kalimat dapat begitu saja mengalir lancar. Tapi tidak jarang pula saya mengalami kebuntuan, mentok, akhirnya batal sharing. Beberapa tulisan, sebelumnya saya sholat dua rokaat dulu, khawatir Salah pilih kata, menyinggung orang-orang yang saya cintai, khawatir menyebar kemudharatan, efek negatif dosa jariyah. Karena semua tulisan kelak akan dipertanggungjawabkan.

Menulis, belajar menatap langit harapan.