Berhijab itu kewajiban bagi muslimah yang sudah baligh. Orangtua wajib mengingatkan anak-anak perempuannya. Suami wajib mengingatkan istrinya. Kakak atau adik laki-laki wajib mengingatkan saudara perempuannya.

Mengingatkan dengan cara yang ahsan, yang baik, yang keren, yang asyik. Bukan dengan marah-marah, ngejudge, apalagi bilang gini, “Buat apa jadi orang Islam kalo nggak mau taat.”

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Astaghfirullah wa atuwbu ilaih.

Bro, sis.
Kalau dakwah belum berhasil, jangan malah menjauhkan mereka dari Tuhannya. Bukan kita, hakimnya. Dakwah itu ada fikihnya. Ada seninya.

Cukup dengan pujian tulus, “Tiap gue liat loe pake mukena, ma syaa Allah, takjub gue, ternyata loe cakep juga. Beda banget.”

Atau, “Anak papa makin cantiik dengan mukena ini. Papa pingin banget liat sesekali kita traveling, kamu pakai hijab. Pasti keren. ”

Kasih. Hadiah. Hijab-hijab cantik, warna-warna kesukaannya. Tuniknya juga. Kulotnya. Roknya. Asesorisnya.

Atau, cobalah merutinkan ajak duduk bareng kajian di masjid. Sepekan sekali misalnya. Pastikan dulu, kita kenal banget gaya ustadz pematerinya, yang agak woles, nggak terlalu hitam putih, hindari resiko bikin jamaah baru kapok. Tapi poinnya dapet: Taatlah, niscaya kamu beruntung.

Doakan dalam sujud sholatmu. Doakan yang ikhlas. Terus menerus. Istiqomah bagaikan tetesan air di atas batu. Doa juga nasehat. Nasehat dalam diam. Nasehat yang kekuatannya juga dahsyat.

Boleh saja menasehati secara lisan, di waktu yang tepat, dengan pilihan kata yang baik, dalam keadaan yang rileks, dan privat. Anak, adik perempuanmu, istrimu, apalagi ibumu, mereka punya harga diri dan perasaan yang halus, Bro. Pap.

Setelah kamu yakin 1001 cara yang ahsan sudah kamu lakukan dan istiqomah kamu lanjutkan, maka tidak ada dosa bagimu ketika mereka belum juga berhijab. Masing-masing kita akan dihisab atas pilihan dan usaha masing-masing.

Hidayah itu mutlak hak Allah.

Kamu memang punya pilihan, untuk mendikte dengan tegas atau keras, tapi kelemahlembutan juga bisa menjadi wasilah hidayah itu. Tetaplah menyayangi dengan tulus, tetaplah berbuat baik, berkata baik, dan mendoakan yang terbaik.

Wallahu’alam bish showab.
Aku hanyalah hamba yang masih terpenjara oleh dosa-dosaku. Mohon maafkan lahir bathin.