Kali ini saya bahas pengalaman, tes-tes apa saja yang saya jalani, sampai akhirnya dokter Alfiah Amirudin spesialis bedah onkologi konsultan kanker payudara, menyampaikan hasil immunohistokimia.

Agak banyak istilah medis, boleh ya.

19 Maret 2018.
Pertama, mamografi. Pemeriksaan standar yang memang sudah seharusnya dilakukan tiap 12bulan sekali bagi semua wanita usia 40+ terutama yang beresiko tinggi.

Kedua, USG mamae. Ini kayak USG kehamilan.

Dari kedua tes di atas, dokter Alfiah bilang, tidak berani melakukan biopsy langsung tumornya. Kenapa, kalo ternyata si tumor jenis yang galak, dia akan “marah” karena rumahnya diganggu, resikonya membelah dan menyebar lebih cepat meretas organ lain.

“Jadi saran dokter, saya harus gimana, supaya bisa cepet ketauan status benjolan ini, dan relatif lebih aman? ”

Dokter Alfiah menjawab dengan hati-hati, “Kita pisahkan dulu si benjolan dan jaringan sekitarnya 1-2 centimeter, dari rumahnya, dari dapur makanannya. Setelah itu baru kita biopsy.”

Baiklah, Dok. Saya siap operasi secepatnya. Hari ini juga saya siap. Dari pada makin lama saya merasa makin galau Ga kruan.

“Tidak bisa hari ini bu, sekarang sudah sore, kan ibu harus puasa dulu enam jam. Besok saya sudah ada jadwal operasi dua pasien. Untuk ibu paling, lusa. Kamis malam.”

Bismillah.

Dua hari menjelang operasi, saya mengurung diri dalam kamar, sholat istikhoroh, sholat tobat, baca Quran berjuz-juz, menangis, istighfar ribuan kali, sholawat. Firasat saya, ini bukan benjolan biasa. Tapi saya tidak berani juga menduga-duga yang buruk.

Sebelum masuk ruang operasi, saya cuma minta sama Allah, beri saya kekuatan hati, apapun hasil biopsy setelah operasi. Saya juga minta Allah beri kelancaran untuk dokter Alfi dan tim yang bekerja sore itu.

Masuk ruang tindakan on-time. Jam 18.45 saya dibius oleh dokter anastesi, yang Ma Syaa Allah ‘gantengnya kelewatan. Uhuk!

Selesai operasi jam 21.30. Satu jam kemudian saya sadar. Dan kelaperan, “Aku dah buang angin belum? Dah boleh minum? Dah boleh makan? Ada nasi kapau, nggak?”

Di kamar ada suamiku, dua sahabat surgaku Hariyani Kaharudin Said
Awalia M
dan emakku dengan raut wajah mendung. Eng, ing, eeengg. Aku kepo, tapi entar aja lah, nanya hasil operasinya setelah pada pulang.

#

Tiga puluh hari kemudian, keluar laporan immunohistokimia.

ER/PR positif, ada hubungannya dengan aktifnya Estrogen dan Progesteron. Qadarullah, darahku, hormonku, telah menjadi lahan subur si caca berkembangbiak. Maka terapinya, minum tamoxifen.

Grade tiga.
Sel kanker, menurut kecepatan pembelahannya, kegesitannya membelah diri. Ada tiga macam. Grade satu, lambat. Grade dua, cepat. Grade tiga, sangat cepat. Dari satu sel membelah jadi dua, dua jadi empat, empat jadi enam belas, enam belas jadi dua ratus lima puluh enam, dan seterusnya.

Ini yang menentukan, apakah pasien harus menjalani kemoterapi, atau tidak. Ubah pola makan saja, tidak cukup. Kemoterapi dibutuhkan untuk memburu dan memblokir perjalanan sel kanker, diharapkan berhenti membelah dan mati.

HER2 triple positive. Ada hubungannya dengan reseptor protein tertentu, yang Qadarullah, menjadikan si caca, tipe yang “galak” dan gesit. That’s why HER2+++ biasanya hampir pasti selalu kecepatannya grade tiga. Obatnya super mehong ini, satu kantong infusan 25jutaan. Yang ampul 17jutaan. Hak saya harus dapet obat ini, delapan belas kali.

La haula wa la quwata illa biLLah.

Kabar gembiranya, menurut dokter KHOM saya, er/pr+ dan her2+++ lebih mudah diobati. Yang agak ngeyel itu yang status ER/PR negatif HER2 positif. Obat kemoterapi sekarang juga sudah lebih maju dibanding awal tahun 2000an. Ada sedikit mual tapi dikasih obat anti mual.

Kabar gembira lainnya, asuransi kesehatan kantor suami, mengkaver semua biaya. Alhamdulillah. Pertolongan Allah.

Tadinya saya keukeuh menolak kemoterapi karena takuuutt muntah-muntah, takut botak, takut gosong, takut jeleeekk, takut mati, jatoh miskin. Akhirnya malah nantangin dokternya kapan secepatnya Dok? Ciyeeee πŸ˜†

Saya jalani lima kali kemoterapi, harusnya enam, tapi karena harus melaksanakan ibadah haji, dokter KHOM aku bilang, sebenarnya empat kali sudah cukup. Tapi transtuzumab / herceptin harus utuh dapat tiap tiga pekan, selama delapan belas kali (setahun, passs).

Makanya pas hajian bawa cooler box isi dua ampul Herceptin.

Efek samping kemoterapi dan transtuzumab, standar aja, kadang diare, kadang sembelit, kadang mual muntah, belekan, pegel-pegel, ngilu badan, tapi nggak setiap hari, nggak sepanjang hari, semau-maunya mereka aja dateng.

Botak? Ya eiyyalahhh. Seksi tauuk. Poles meikap dikiit, jadi mirip Sinead O’Connor kawe. Eh, bisa juga lohh, digambarin Avatar the legend of Ang.

Boxy bentaran doang, gak sampe setahun, tumbuh lagi, lebih lebat, lebih bagus, lebih kriting. Kayak edi-brokoli. Pangkas dikit-dikit, rapihin ulang. Tetep keliatan cakeep.

Disiplin nurut nasehat dokter, minum tiga liter sehari, makan sayuran dan buahan tiga kilogram sehari, tidur 10-12 jam sehari, makan ikan dan daging merah direbus atau dikukus (jangan dibakar) untuk jaga HB, kemana-mana pakai masker untuk mengurangi resiko infeksi, suntik lekokin untuk ngoreksi angka jumlah lekosit supaya kemoterapi selanjutnya bisa tepat waktu.

Ada minggu tenang, biasanya hari ke-10 sampai 20 pasca kemoterapi. Saya bisa petakilan, ke pasar, pengajian, silaturahim, bezuk pasien, dan lain-lain. Saat itu saya merasa, ajal itu dah dekeeett banget. Jadi bawaanya pen menghabiskan detik demi detik dengan taubat dan amal sholeh. Ngunjungin sodara-sodara, minta maap. Mau posting medsos juga ti-atii banget. Tiap hari maunya melukin anak, melukin suami, melukin emak, melukin mentemen muslimah yang bezuk ke rumah/RS.

Terapi-terapi besar sudah selesai, per 11 Mei 2019. Alhamdulillah. Tinggal kontrol per tiga bulan. Dan melanjutkan minum tamoxifen.

Makasih yaaa πŸ™πŸ™ dukungan dan doanya. Kalian super kereeeenn. Ma Syaa Allah tabarakallah. πŸ’–