Alhamdulillah sudah selesai 11 Mei 2019. Sekarang tinggal maintenance. Kontrol per tiga bulan, kadang periksa darah lengkap, kadang USG.

“Elo kuat ya, kemoterapi ‘kan dahsyat banget.”

La haula wala quwata illa biLLah. Gue pasrah aja. Kalo mau dijemput pulang, semoga Allah beri husnul khotimah, semoga lakik gue ridho, semoga emak gue ridho. Kalo dikasih kesempatan kedua, gue minta sepaket dengan pertolongan Allah juga, istiqomah dalam taat.

Alhamdulillah lima kali kemoterapi pertama, walaupun ada efek samping mual muntah, tapi selera makanku relatif stabil, kalap, berat badanku naik lima kilograms. Dokter KHOM sampai nyuruh ganti, nasi putih, dengan singkong. Beliau ngingetin, jangan kebanyakan naik berat badan.

Alhamdulillah doa emak, suami, anak-anakku, maqbul. Doa sahabat-sahabat dan orang-orang sholeh/sholehah, maqbul. Jazakumullahu khairan.

Tiga kali kontrol hasilnya bikin dokter KHOM saya, tersenyum, dan wanti-wanti,”Jaga makan ya bu. Olahraga ya bu. Manajemen stress. Tetap sehat ya bu. Kurangi kerjaan dokter. ” 😊

Siap Dok, in syaa Allah.

Thank God I’m now a survivor. Coret mikirin hal-hal gak penting. Devaluasi orang-orang yang bawa pengaruh negatif. Banyak jalan-jalan, banyak baca Quran, banyak puasa, banyak berbagi, banyak ngobrolin dan nonton yang lucu-lucu.

Tadi pagi di kolam renang kenalan sama nini-nini tiga orang. Berenangnya masih kuat-kuat, ma syaa Allah, ada kali 20 rit dalam 75 menit. Selesai bilas dan keramas, sambil oles-oles body butter, kepo, saya tanya,”Berenang rutin berapa kali sepekan bu? Sejak kapan bu? ”

Saya berenang mulai umur 30an, tapi benar-benar rutin tiap Senin, Rabu, Jumat, udah pasti ‘Nak, sejak umur 50an.

“Sekarang usia berapa bu?”

74.

“Ma Syaa Allah pantesiin keren banget, napasnya bagus bu.”

Alhamdulillah, mari ‘Nak, ibu duluan.

“Silakan bu, sampai ketemu lagi, in syaa Allah. ”

Mereka bawa tas geret. Bukan handbag atau ransel, lagi. Mengingat usia rawan lower back pain.

Pulang berenang saya mampir Pasar Pagi Rawamangun, belanja biang kunyit, jahe, sereh, jeniper. Sampe rumah seduh bentar. Ultimate water, tambahin garam himalaya dan madu. Habis, segelas. Nyeduh lagi, daun kelor, buat diminum nanti maghrib. Besok mau nyeduh daun sirsak. Selang selling, ama infused water habbatussauda, saffron, kayumanis. Kalo sayuran buahan selagi mampu, saya ganyem. Kalo bosen, dijus, tinggal telan. 😊

Cheating?

Masih seriiing. πŸ˜†

Disyukuri saja, dan dibatasi. Diyakini saja, bahwa, bukan makanan yang bikin sakit. Tapi QadaruLLah.

Cancer, adalah makhluk ciptaan Allah, dia hanya bisa membuat kita sakit, atas kehendak Allah. Kalo sakit, sunnatullahnya, berobat, ketemu dokter yang bertahun belajar pengobatan kanker. Kemoterapi hanya wasilah. Banyak pasien sembuh atas ijin Allah, ada juga yang berpulang (karena sudah waktunya pulang).

Banyak sahabat yang mengingatkan saya, Fi banyak-banyak berdoa, utamanya memohon ampunan Allah. Cancer, bukan hukuman, tapi peluang mendapatkan syafaat dan maghfirah-Nya. Apa sih, yang sebenarnya kita butuhkan?

.

Ma Syaa Allah tabarakallah.
Her2+ is a blessing.
Writing is healing.
Menulis, belajar berdamai dengan takdir. Berdamai dengan kanker.