Sama, dulu juga aku menolak kemoterapi karena percaya dengan testimoni pasien-pasien yang (mengklaim) sembuh dengan hanya mengubah pola makan dan minum obat herbal, air rebusan daun sirsak, sarang semut, kunyit putih. Hampir juga aku pakai jaket dokter Warsito.

Di depan ruang tunggu dokter Findy, KHOM saya masih menyusun kalimat-kalimat penolakan. Alasan mau hajian lah, mau ini lah, mau itu lah. Tapi berkat doa emak gue, doa suami gue, anak-anak, doa dari mentemen yang paham bahwa terapi medis masih yang terbaik dan aman.

Diskusi satu jam lebih di ruang periksa. Dokter Findy berhasil meyakinkan saya, it’s gonna just fine in-syaa-Allah.

Protocol kemoterapi dibikin seaman mungkin, menyesuaikan status IHK (imunohistokimia) saya, menyesuaikan berat dan tinggi badan saya, ada premedikasi untuk meminimalkan efek samping tapi juga diharapkan efektif menghentikan perjalanan si caca, dan memberikan kualitas hidup lebih baik.

Dalam perjalanan siklus kemoterapi saya mendapat banyak teman baru yang senasib yang cerita, mereka sempat bertualang ke pengobatan alternatif, jaket Warsito, minum jamu Sinse, air rebusan tanam-tanaman tersebut di atas, dan mantangin banyak jenis makanan. Hasilnya? Qadarullah naik stadium. Karena jenis kankernya Grade III (galak, gesit). Nggak terkejar kecepatan penyebarannya.

Sebaliknya, ada juga cerita, pasien sudah kemoterapi, baru tiga kali sudah menyerah ngga kuat efek sampingnya. Akhirnya berubah arah, minum jamu godokan aja. Sembuh juga dengan ijin Allah. Kita tidak tahu lewat obat-obat yang mana Allah ngasih kesembuhan. Bisa jamu, atau dari kemoterapi yang tiga kali, atau gabungan keduanya, atau gabungan semua ikhtiar.

Satu hal yang saya hindari. Berobat ke “orang pintar” gaje.
Ngeri aja, takut diselipin makhluk ghoib, terus gue jadi tergantung ama dia, bolak balik mulu pen ketemu dia. Naudzubillahi min dzalik.

Gue kepingin sembuh, tapi pilih ikhtiar yang Allah ridho aja lahh.

Saya lebih yakin dan percaya: baca Quran berjuz-juz, abis itu tiup dua telapak tangan, usap-usapin ke seluruh badan dari kepala sampe kaki. Kerjain aja sendiri.

Saya lebih yakin dan percaya, sedekah jorjoran ke anak yatim dhuafa penghafal Quran, dari pada sedekah ke “orang pintar” walaupun banyak testimoni pasien yang bilang sembuh. No, thanks. 😊 Pertanggungjawabannya nanti di akherat, berat Mak.

Enaknya kemoterapi, saya boleh makan apaan aja, nggak ada pantangan, kecuali makanan yang dibakar dan kalengan. Eskrim, boleh. Dark chocolate, boleh. Daging merah disoto, boleh. Buahan, sayuran, apaan aja boleh sebanyak-banyaknya.

Selesai kemoterapi, baru dehh, banyak mantan. 😊