Ketakutan saya sebagai penyitas Ca mamae, paling tidak, ada empat.

Pertama, resiko efek samping dari masa pengobatan yang panjang, jenis obat dan terapi yang dijalani.

Kedua, relapse atau kekambuhan. Karena banyak dapet input cerita penyitas yang relapse. Jadi kalo berasa senut-senut dikit, gatel-gatel dikit, langsung parno.

Ketiga, resti, resiko tinggi lebih rentan terinfeksi bakteri dan virus. Batuk dikit, bersin dikit, langsung melintas tuh pikiran horror. Gak pake permisi.

Keempat, kepala keluarga yang masih belum punya pilihan Di Rumah Aja, bahkan Sabtu malam kemarin pun, masih kebagian piket, pulang sampai rumah Ahad jam 10 pagi.

Bagaimana saya mengelola ketakutan-ketakutan di atas?

Bukan dengan afirmasi-afirmasi yang bombastis, karena modal semangat saja bagi saya tidak cukup. Tapi dengan cara mengenali dan menerima diri ini sebagai hamba yang… Bodoh, hina, dan tak berdaya. Saya bisa lebih rileks. Lebih santuy.

Maksudnya?

Berangkat dari merasa bodoh itulah, saya belajar dari pengalaman banyak orang, menyerap ilmu dari diskusi dengan banyak dokter dan penyitas. Harus melakukan apa, makan apa, membaca apa, nonton apa, milih teman duduk teman rumpi yang kekgimana, apa aja yang nggak boleh dilakukan, apa aja kebiasaan baru yang harus dilatih terus. Ketika kau punya riwayat kanker, hidup tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya.

Saya juga masih belajar terus, mengenal Pencipta si Kanker dan si Covid-19.Belajar apa dan bagaimana itu ketaatan, Taubat, Ridha, Syukur, Sabar, ikhlas, Tawakkal dan istiqomah. Belajar, bagaimana caranya meraih ampunan dan husnul khatimah.

Saya juga menjadikan kegiatan menulis, sebagai self healing, hiburan, kemudian mengikuti kelas intensif bahasa Arab dan tahsin sebagai hobi baru. Kenal orang-orang baru, dapat ilmu baru, mampu mengalihkan fokus dan memompa semangat saya.

Segala ikhtiar bumi yang bisa diusahakan, meski tidak sempurna, lakukan yang terbaik, yang saya mampu. Dan hal-hal yang berada di luar kuasa saya, maka Allah sebaik-baik Dzat Yang Maha Melindungi dari bala’ dan kejadian yang saya khawatirkan. Bismillahilladzi La yadhurru ma’asmihi syai-un fil-ardhi walaa fissamaa, wa Huwa As Samii Al ‘Aliim. 🤲