Saya berkesempatan mengunjungi ibukota Greece pada bulan Agustus 2008, dalam rangka menghadiri undangan Konferensi Director sebuah perusahaan kosmetik direct-selling asal Swedia, tempat saya berkhidmat masa itu. Perjalanan pertama saya ke luar negeri, naik maskapai Luthansa transit Singapore dan Frankfurt, keluyuran di dalem bandaranya doang, karena jeda penerbangan berikutnya kurang dari enam jam.



Sebulan sebelum keberangkatan, saya melakukan pencarian informasi melalui internet. Bagaimana geliat muslim di sana. Sedikit sekali yang saya peroleh. Belum ada Masjid Jami, belum ada Islamic Center. Sampai hari H keberangkatan, saya belum juga berhasil mendapatkan nomer telepon orang Indonesia Muslim yang tinggal di Athena.

Konferensi hanya 6 hari, selebihnya bebas mau kemana pun. Saya nggak berani pecicilan sendirian. Bahasanya huruf kanji, brayy. Ngeluyur kemana-mana kudu bareng-bareng, rombongan. Sempfet kejadian, mau balik ke hotel, nyasar, salah naik bus, diomelin supirnya. Gak ngerti lah dia ngomong apa. Anggep aja pujian.

“Thank you, Mister.” #senyum #woles

Waktu itu WhatsApp belum populer, saya memilih masuk grup BBM muslim, ikut diskusi menentukan itinerary, mau kemana hari ini, berbagi jadwal sholat, dan mendownload aplikasi penunjuk arah kiblat. Kami berkunjung ke Acropolis, kawasaan kota tua Plaka, lalu ke pusat kota Athena, dan destinasi paling jauh berlayar naik kapal pesiar ke Pulau Aegina, Hydra, dan Poros.

Cuaca sedang di puncak musim panas. Suhu udara siang hari bisa mencapai 40 derajat celsius. Udah pake krudung, pake kacamata, pake topi pulak. Panas banget, kulit perih. Jadi kalo habis cuci muka harus cepat-cepat oles heavy cream tabir surya. Kalo pulang agak sore, naik commuter atau tram, langsung tercium aroma kue (tek). Untung bawa wewangian mini, deketin ke hidung untuk meredakan puyeng.

Gak berani jajan kuliner sembarangan. Supaya nggak kelaparan, pas sarapan di hotel, saya bawa ransel kecil, saya isi dengan buah-buahan, pisang, apel, pear, jeruk. Plus kue pia dan roti sobek bekal dari Jakarta. Kalo lapar, mampir ke kafe, pesan minuman dalam kemasan seperti air mineral atau sari buah. Pilih tempat duduk yang bisa ngumpet-ngumpet makan bekal dalam ransel. Alhamdulillah hari ke-10 bos gede ‘nraktir kami di sebuah restoran di Plaka, menunya: Nasi Rendang! Cihuy…

So… seneng nggak?

Seneng banget dong.

Pingin lagi nggak, ke Yunani? Kan belum ke Santorini yang sexy?

Enggak. Makasih. ๐Ÿ˜Š Ganti dong, ke negeri lain, yang sama seksinya, dan gampang dapetin kuliner halal.

Tulisan ini terinspirasi dari vlog Muslim Traveler 2019 di bawah. Cekidot.