Duluu banget saya mahh selalu kagum sama pelajar dan mahasiswa berprestasi, dapet beasiswa, bisa sekolah ke jenjang lebih tinggi. Dan saya nggak pernah kepikiran, “Terang aja dia anak orang mampu. “

Logika saya, walau orangtua mereka tajir melintir juga kalo si anaknya nggak punya motivasi semangat juang belajar, tetep aja, zero. Ngga kemana-mana.

Pengajian di dekat rumah saya, isinya banyak ibu-ibu berpendidikan tinggi. Anak-anaknya juga, pinter-pinter, dan baik-baik. Lolos masuk perguruan tinggi negeri favorit, jalur undangan. Ahh saya selalu kepo, gimana cara dan gaya orangtuanya mendidik.

Dalem hati selalu terucap, Ya Allah saya juga mauu, anak-anak kami, pinter-pinter, dapet beasiswa, sekolah di sekolah terbaik Yang Engkau ridhoi. Tiap sholat malam, saya mendoakan anak-anak. Tiap abis baca Quran, saya mendoakan anak-anak.

Enaknya, jaman dulu, dua puluh tahun yang lalu belum ada gadget. Tivi juga baru 4-5 channel kalo nggak salah. Dan saya bukan pemirsa setia sinetron, apalagi drakor. Hidup kami, bangun tidur, mandi, sholat, sarapan, bekerja, bayar cicilan, bayar hutang. Kemana-mana naik turun angkot, bus kota, mikrolet, metromini, becak, atau ojek. Kepanasan. Kehujanan. Hamil 8 bulan, ngejar-ngejar bus Mayasari Bakti jurusan Kp Rambutan.

Anak-anak masuk esde pun, kami mampunya sekolah negeri. Boro-boro les piano dan balet. Alhamdulillah banget dipertemukan dengan guru-guru yang berkualitas.

Anak-anak juga kami disiplinkan, maghrib sudah di rumah, and no-tv. Alhamdulillah saya seneeng baca. Novel, majalah, komik. Jadi anak-anak ketularan. Ma Syaa Allah.

Kesibukan di rumah lepas maghrib, baca Quran, ngobrol, diskusi, atau bahas pe-er. Akhir pekan, malam minggu, kami tidak mengijinkan anak-anak bermain di luar rumah, kecuali keluar rumah makan malam bersama orangtuanya.

Begitu pun soal menutup aurat. Sejak bayi, kalo keluar rumah, lebih sering saya pakaikan mini hijab dari pada topi.

Kolot?
Egepe! πŸ˜ŠπŸ˜Š

Sejak mereka esde, saya mulai kepikiran memasukkan mereka ke pesantren, dan ide ini banyak mendapat tantangan. Dianggap nggak sayang anak lah. Ditanya, lohh anakmu kan baik-baik saja, koq mau dimasukin pesantren, nanti merasa dibuang orangtuanya lohh. Ntar kalo sakit gimana. Tega banget sih.

Perlu masa bertahun, meyakinkan banyak pihak, termasuk anak-anak. Si kakak tetep keukeuh konsisten di sekolah negeri, okay saya ijinkan tapi syarat dan ketentuan berlaku, kita bikin deh komitmen perjanjian. Si adik bersedia di pesantren, menghafal Quran.

Enam tahun kedua, masa sekolah. Mulai kelihatan, bukti mu’jizat Al Quran. Nilai UAN si adik 11-12 dengan si kakak. Tetap lebih tinggi si kakak, tapi memang kerja keras kakaknya, bimbel, try out, begadang, malem minggu pun saya temenin diskusi dengan pembimbing di bimbelnya. Sedangkan si adik, bimbel hanya dua pertemuan, persiapan UAN hanya modal pasrah, karena berbarengan dengan ujian Quran. La haula wala quwata illa biLLah.

Kuliah juga si ragil sejak semester pertama, sudah gratis, dan dapat uang saku. Lintasan pikiran yang terucap, sering banget jadi kenyataan. Contoh, dulu dia pernah bilang mau ikut saya berlibur ke Brunei Darusalam, tapi jadwalnya bentrok ujian. Allah kasih, dia ke Brunei, dalam rangka MTQ Asia Tenggara, naik pesawat bagus Royal Brunei, nginep di hotel bintang lima, dijamu sang raja. Ma Syaa Allah..

Sulung juga finally berhasil mendapat beasiswa di semester lima dan enam. Alhamdulillah, Ma Syaa Allah tabarakallah.

Baru masuk semester tiga si ragil sudah mendapat “lamaran” sekolah-sekolah Islam untuk mengajar Quran dengan gaji UMR tapi dia memilih fokus selesaikan kuliah dulu. Uang tabungan si adik, dari hasil MTQ ke MTQ, dia daftar haji atas namanya dan nama kakaknya. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Saya nggak pernah jemu nyeritain dan menyarankan emak-emak, ayooo kita dulu yang aktif belajar Quran, sambil aktif menginspirasi anak-anak untuk belajar menghafal Quran. Menginspirasi ya. Bukan memaksa. πŸ˜Š

La haula wala quwata illa biLLah. Semoga Allah menolong kita, ya Mak. πŸ€²