Ini masih kelanjutan ulasan saya, “Orangtua adalah Takdir Anak.

Anak-anakku penasaran dan mendesak, kenapa ibuknya mendadak masuk kamar, minta maaf dan nangis. Saya ceritain, shocked abis baca tulisan anak muda, muslimah, berhijab, travel vlogger, bloger, influencer, followernya banyak, cantik, pintar, mengaku menemukan cahaya Islam di Eropa, kuliah di Jerman….. (belum selesai saya ngomong), si ragil langsung komentar,

“Ohhh dia! Tauuu aku, bu. Awalnya, duluuu, aku sama teman-temanku pun follow. Terpesona dengan ulasan travellingnya. Tapi begitu dia mulai bahas agamanya dengan pendapat pribadinya yang “lompat pagar” dan semua orang yang ngingetin dia, dia blokir. Langsung kami Unsubscribe, Unfollow.”

Anakku melanjutkan, OK-lah untuk ilmu dunia atau apa pun yang berkaitan dengan kuliahnya, dia mau ngomong apa aja, terserah. Tapi ketika sudah berani bahas bagian-bagian dari syariat, emang dia siapa? Apa kompetensinya? Kuliah syariah, enggak. Bahasa Arab nguasain nggak. Baca Quran, tajwidnya masih nyelonong-nyelonong (nonton net tv muslim traveler). Pantesnya bahas tema recehan aja. Meikap, skincare, dan traveling.

Anakku yang ragil ini semester empat Syariah LIPIA, hafal Quran 30 Juz, juara di beberapa Musabaqah Hifdzil Quran kategori Tafsir Al Quran Berbahasa Arab, nasional dan luar negeri. Jadi bukan kaleng-kaleng dia ngomongin pandangannya tentang si influencer ini.

“Tau bu. Sudah banyak yang berusaha meluruskannya, sampai Ustadz Felix Siauw dan Hawariyyun pun pernah. Dikasitau baik-baik pun, dia blokir.” Sampe segitunya?

Sedangkan si sulung hanya senyam-senyum geleng-geleng. Dia mengaku pernah beli dan baca satu buku si influencer, udah lama, isinya recehan, nggak ada yang nyeleneh atau lompat pagar. Saya minta pinjam bukunya. Dia ketawa, “Lupa naro dimana, dikosan lama atau di asrama. Aku nggak pernah jadi followernya. Males aja.”

Alhamdulillah, makasih Ya Rabb. Lindungilah kami dan keturunan kami dari pemahaman dan perilaku yang Engkau tidak ridhoi. Masukkan kami dan keturunan kami ke dalam golongan hamba-hamba yang Engkau cintai. Hamba ridhaa pada kedua putri hamba, semoga Engkau pun ridhaa kepada mereka. Allohummaghfirli waliwaalidaiyya warhamhuma kama rabbayaani shoghiiro. Allohumm innaka ‘afuwwun Kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu annna Ya Kariim.