Kemarin dapet DM dari jeng Yumi Yulanda, mahmud yang saya kenal di sebuah lembaga tahsin, bertanya, “Gimana sih kiat-kiat, pola didik, motivasi ibu dan suami, mendidik kedua putri?”

Kalo mau diceritain semua akan sangat panjang banget yaa, secara anak saya yang ragil saja umurnya sudah dua puluh tahun. Tapi saya coba ringkas dalam poin-poin intinya saja.

Pertama, sejak kuliah saya senang mengisi waktu luang dengan hadir seminar, nggak cuma yang berhubungan dengan mata kuliah, tapi juga yang umum, termasuk tema parenting.

Kedua, saya selalu kagum dengan teman-teman yang baik, nggak neko-neko, nggak bangor, dan cerdas bukan dari sononya tapi karena belajar keras. Saya main ke rumahnya, kenalan dengan orangtuanya, nginep, untuk apa? Belajar bareng, dan sekaligus merhatiin gimana sih pola asuh sang orangtua, sampai anak-anaknya tumbuh beneerrr kayak gini.

Sampai sudah punya bayi pun, saya masih berusaha meluangkan waktu, berkenalan, dan berdiskusi sama aki-aki nini-nini yang sudah terbukti, produk keturunannya baik-baik akhlaknya, santun, dan sukses prestasinya.

Ketiga, yang saya pahami dan yakini, anak-anak itu peniru ulung. Anak tidak mendengarkan omelan, tapi melihat kebiasaan orangtua sehari-hari. Jadi, saya merasa harus berlatih, membangun budaya baik seperti menjaga kebersihan, senang membaca, menepati janji, mengucapkan maaf, permisi, terima kasih, dan sebagainya. Kami harus bekerja keras menjadi orangtua yang pantas diteladani. Walaupun jauh dari ideal juga.

Keempat, jangan memaksakan kehendak pada anak jika pilihannya bukan hal yang prinsip banget. Saya belajar memberi kepercayaan dan kebebasan yang bertanggungjawab. Tentu saja, sebagai orangtua tetap wajib memberi masukkan, pandangan tentang konsekuensi dan resiko atas pilihan jalan yang akan ditempuh. Banyak hal yang orangtua mampu lihat, anak belum mampu lihat. Orangtua harus bisa memberikan alasan-alasan yang kuat, pertanyaan-pertanyaan, kenapa memilih A, B, C, dan ini melatih anak berpikir kritis, mengambil keputusan bukan karena disuruh atau dilarang, bukan pula karena ikut-ikutan teman, tapi karena benar-benar tahu apa yang mereka mau.

Kelima, komunikasi, bonding. Suami dan saya seneng ngobrol, diskusi, hal apa aja, dari yang berat, sampai recehan. Sebelum berdiskusi dengan anak-anak, kami pastikan kompak dulu nih satu pandangan satu kesimpulan. Kami juga melengkapi diskusi dengan humor, eye-contact, intonasi, ekspresi positif, sentuhan, peluk cium dan pijitan sayang. Kami mau, anak-anak merasa disayang, diterima apa adanya.

Pernah marah nggak?

Pernah dong, dan manusiawi banget lah. Menurut hemat kami, boleh memarahi anak, jika hal itu memang yang prinsip banget, dengan catatan jangan memarahinya atau mengkritiknya di depan umum. Orangtua harus menjaga harga diri anak. Anak perlu belajar membangun mental kuat, nggak mudah Down, karena di masa depan mereka akan bertemu segala macam tabiat manusia.

Keenam, saya pernah mengajak anak-anak (waktu mereka masih esde) kenalan sama teman-teman saya dari banyak profesi. Dokter, psikolog, jaksa, pengacara, arsitek, dosen, pengusaha, dan lain-lain. Tujuannya, untuk menginspirasi, membuka wawasan mereka dalam membangun cita-cita.

Sampai di rumah, hari-hari bulan-bulan berikutnya, tinggal nyambungin cerita, diskusi, diselipin nilai-nilai motivasi, “Dulu waktu SMA tante itu rajin belajar dan semangat organisasi. Oom itu jago basket dan rajin sholat berjamaah di masjid.”

Last but not least. Banyakin taubat dan banyakin doa, karena ketidaksempurnaan kami, karena kejahilan kami, karena kekurangilmuan kami, karena kelalaian kami. Jadi ketika merasa tidak berkenan dengan perilaku atau pilihan anak, sebelum complain ke anak, orangtua banyakin taubat dan doa. Udah gitu aja.