“Tapi Fi, aku takut ke dokter..”

Takut diapain? Operasi? Takut cacat? Takut dibuang semua payudaranya?

Justru…. Makin cepat ketemu dokter, makin cepat ketauan statusnya, makin nurut nasehat dokter ahlinya, in syaa Allah makin sedikit masalah, makin mudah disembuhkan, dan payudara kalian bisa diselamatkan.

Kebanyakan kasus yang datang ke dokter, itu kondisinya sudah sangat parah banget, karena pasien bertualang dulu ke pengobatan non-medis. Korban testimonials. Over advertisement. Korban bisikan katanya-katanya. Tanpa mau tabayyun, mencaritau ilmunya.

Ketika ditanya, kenapa baru sekarang ke dokter? Jawabnya, abis kemarin-kemarin nggak sakit Dok, jadi saya berobat ke sana dulu. Abis takut dioperasi Dok, takut dibuang payudaranya.

Lahh kaan.. giliran sudah mentok ajaa, baru ke medis. Padahal kalo saja ketika masih di stadium awal-awal, langsung dilakukan tindakan medis dan treatment, payudara dapat diselamatkan. Teman saya, irma, benjolannya lumayan besar. Setelah kemoterapi enam kali, tumornya menciut jadi kecil banget. Lalu dokter melakukan tindakan operasi, buang tumor. Payudaranya selamat.

Saking gemesnya, sampai-sampai sesedokter spesialis bedah onkologi berani menantang, “Kasih kami kasus stadium nol atau satu, kami berani jamin peluang kesembuhannya 100%. Pasien-pasien saya banyak yang payudaranya berhasil diselamatkan karena segera berobar medis. Tumornya saja yang dibuang. Payudara tetap rapi, ngga kayak bekas operasi. Teknologi bedah payudara sekarang sudah semakin canggih dan semakin baik derajat estetikanya.”

Ya, salah satu keuntungannya deteksi dini, begitu terasa langsung konsultasi dan langsung NURUT saran dokter onkologinya, payudaramu selamat dan makin cepat mudah disembuhkan, dengan ijin Allah.

Teknologi medis sekarang sudah makin canggih. Support grup juga sudah banyak. Pejuang kanker bisa berbagi rasa kepada sesamanya, tostosan ama yang senasib. Kita berobat dan paham ilmunya. Yuk, ke dokter onkologi aja yaa.