Cinta ‘kan membawamuuu, kemballi di sinniii 🎵 🎵 💞

By: ‘Afiyah Salma Lathifa

Saya pernah belajar Therapeutic Writing, menulis untuk menyembuhkan diri sendiri. Dari kelas ini saya memahami bahwa, kata-kata itu, tidak netral. Kata-kata, menggiring emosi, mencetus rasa, menguatkan keyakinan, dan menjadi doa.

Sejak saat itu saya berusaha memilih kata-kata untuk diri saya sendiri. Misalnya, “kesulitan” saya ganti dengan “tantangan” atau pertanyaan yang butuh jawaban.

“Dia bisa. Kok saya nggak bisa-bisa, sih?”

Saya ganti dengan, “Gimana cara dia belajar sampai bisa?”

Dengan mengganti pertanyaanya, saya bergerak mendekat ke arah tujuan. Yaitu, jadi bisa seperti dia.

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan posting an sebelumnya, Mengamalkan Tajwid itu hukumnya fardhu ‘ain.

https://fifisofida.home.blog/2020/05/28/mengamalkan-tajwid-al-quran-hukumnya-fardhu-ain/

Tantangan, godaan, itu selalu, dan pasti, adaaa aja sepanjang perjalanan saya belajar Tajwid.

Saya baru merasa butuh belajar tajwid tahun 2014, di usia ke-42. Kenapa? Setelah saya melihat dan mendengar bacaan seseukhti yang baru beberapa tahun hijrah, sudah mengajar tajwid. Saya keteteran, bacaan saya dikoreksi terus. Dia ngasihtau, panjang pendeknya huruf itu penting, harus benar, supaya tidak mengubah arti. Dia tau saya nggak gampang didikte, maka dia bilang gini, “Kalo mau, kamu bisa belajar di alamat ini, guru-gurunya bersanad.”

Setelah placement test, saya masuk level satu. Satu halaqoh 8 murid, satu guru. Selain pakai buku latihan khusus, per tema. Quran yang digunakan juga standar internasional. Rosm Utsmani / Mushaf Madinah. Satu level lamanya 6 bulan, 24x pertemuan, sudah termasuk ujian. Satu pertemuan 2 jam.

Saya melihat, banyak mahmud, macan, jelita, lolita, semangat belajar tajwid. Datang 30 menit lebih awal, saya kenalan dengan “kakak kelas” saya banyak nyimak dulu.

Mereka bilang, “Belajar tajwid itu ga bole ja-im. Mulut harus berani buka, nyengir, monyong. Bawa cermin. Suara jahar, keras. Gapapa Salah, Yang Penting Kenceng. Ha-ha.”

Catet. 😊

Belajar tajwid juga, kalo mau bisaa, ga bole baperan, bolak-balik dikoreksi, ngambeeegg, besoknya banyak alesan, absen lagi, absen lagi. Gak naik level, ngambeeegg. Lahh?

Saya mahh tau dirii. Kalo emang belum pantas naik kelas, ngulang lagi ajaa nggakpapa, sampe mantep. Saya pengen bisa baca Qur’an yang Benar, bukan ngejar sertifikat. Saya menikmati proses KBM, saya mengulang latihan di rumah, saya ikutan ODOJ untuk mraktekin ilmu tajwid yang udah dipelajari. Saya nggak malu, nggak gengsi nanya, gimana sih caranya? Lidahnya lengket kemana? Mangapnya seberapa lebar? Gimana caranya, supaya huruf Nun dan Lam, ketika bersukun, nggak kepantul?

Saya dateng lebih awal, kenalan, deketin, banyak guru dan ibu-ibu kakak kelas, eskaesde, ngobrol, bawain makanan. Ujung-ujungnya minta dikoreksi bacaan.

Jarak tempuh dari rumah ke Sanggar sekitar 7-8 kilometer, rutenya macet asoy. Sekarang malah lebih jauh, Rawamangun-Condet 10 kilometer. Jadi saya harus target, paling telat keluar rumah jam berapa. Kalo sekiranya telaat, nyamperin opang, pilih mamang yang muda dan motornya bagus. Kehujanan, kepanasan, masuk angin, nggreges-greges, asal masih bisa jalan dan suara nggak hilang, saya tetep masuk.

Saya juga berdoa, minta sama Allah, melembutkan lidah, bibir, tenggorokan saya untuk membaca Kalam-Nya dengan tartil.

Godaan kemudian adalah, omset orderan dagangan saya, tumpah-tumpah. Jadwal pelatihan padat. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. Awalnya saya ge-er, ini berkah dari pengorbanan waktu saya untuk Al Quran. Lama-lama, malah jadi terlena, lalai, jarang ngerjain pe-er, mulai banyak absen. AstaghfiruLLaah wa atuwbu ilaih.

Godaan lebih besar lagi tahun 2016-2017 adalah tergiur tiket ✈️ murah, dan rezekinya juga pas lagi ada. Dua tahun saya sempfet cuti. Sibuk menikmati impian dunia, pelesiran ke mancanegara. Jordan, Palestine, Yunani, Turki, benua Asia, dalam negeri pun saya jelajahi pelosok Sumatera – Jawa, manjat gunung, wisata kuliner.

Saya lalai, dari Al Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman. Bermasalah. Usaha dagangan saya, pun. Bermasalah.

Sampai Maret 2018 dikasih bonus HER2+++ (kanker grade III) yang saya yakini banget ini adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala , saya kembali gabung halaqoh Quran. Alhamdulillah alladzi bini’matihi tattimmush shalihaat. 🤲

Suami saya menambahi…

“Kamu harus lebih banyak bersyukur, dan lebih sering lagi bersyukur. Banyak banget pertolongan Allah waktu kamu sakit. Tau nggak, total biaya kemoterapi, radiasi, terapi target, dan evaluasi-evaluasinya? Hampir satu emmm. 99,99% dikaver kantor aku. Dan fisik kamu dikuatkan, mampu bekerjasama dengan rangkaian pengobatan panjang dan berat. La haula wa la quwata illa biLLah.”

Keluarga, sodara, teman-teman yang berkunjung, sering bawain cemilan sehat dan suplemen yang memang saya butuhkan selama pemulihan. Madu. Minyak zaitun Extra Virgin. Kacang Almond, walnut, pistachio. Air zamzam. Minyak ikan omega 369. Teh hijau, teh putih. Saya cek di toko online harga per botolnya antara 400-900ribu.

Sepanjang tahun pengobatan itu saya tidak pernah belanja ke pasar atau supermarket. Stok sayuran dan buahan di rumah berlimpah. Bingkisan tamu atau kiriman hamba-hamba Allah yang tidak mau diketahui identitasnya.

Allah datangkan teman-teman yang jauh-jauh, dari Yogya, Palembang, Kalimantan, datang menemui saya. Bahkan ada yang baru kenal via medsos, akhir pekan nongol di rumah, nemenin saya berjemur. ☀️ Saya tidak pernah kesepian. Hari-hari saya berkelimpahan cinta. Ma Syaa Allah. 💖

===

Ya…

Selama masa pengobatan, saya berusaha mempersiapkan segala kemungkinan. Sembuh, sehat, atau pulang. Baca Quran sehari 3-5 juz, di atas kasur. Dan lebih sering menangis, bertaubat.

Alhamdulillah, sampai tulisan ini published, saya masih diijinkan kembali sehat, petakilan, menuntut ilmu dan berbagi sejumput manfaat setiap hari. Qur-aanan ‘Ajaban. Al Quran sungguh menakjubkan.

Saya merasakan bedanya, antara: ketika futur, lalai atau memberikan waktu *sisa* mengamalkan tajwid Al Quran. Dengan.. Mengawali hari bela-belain Quran dulu sebelum beraktivitas. Bangun dua-tiga jam lebih awal sebelum Subuh.

Waktu seperti terasa lebih berkah. Sudah ngerjain ini itu banyak hal, liat jam, lohh baru jam 10 pagi, kirain sudah dzuhur. Lebih produktif, dan hati nggak gampang baper. Gak gampang cemas, takut, kuatir, parno. Lebih santuy, woles. Lebih mudah ridhaa, bersyukur oleh sebab remeh temeh retjehan. Ini alasan saya gabung kembali dalam halaqoh Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman, Allah perbaiki. Jadi lebih indah. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. 💖

Tantangan masa kini adalah Pandemi, belajarnya dari rumah, ngandelin kuota dan sinyal internet yang byar pet byar pet. La haula wala quwata illa biLLah, semoga Allah kuatkan semangat belajar kita. Semoga Allah teguhkan tekad kita, semoga Allah limpahkan pertolongan-Nya, semoga dikuatkan kesabaran kita, dan kesabaran guru-guru kita, dalam menjalani KBM Tajdwid Al Quran. 🤲

Berharap back for good. 🤲 Ya Muqallibal Quluub. Tsabbit Quluubana ‘ala Thoo’atik. Allohumma inna nas aluka husnul khotimah. Allohumma taqobbal minna. Nastaghfiruka wa atuwbu ilaiK. 🤲

 

No photo description available.