Kebanyakan pasien fokusnya pada, “Nggak boleh makan A, B, C.” dan mereka berusaha banget taat mematuhi pantangan, sampai baper liat orang makan. Pen makan mie-ayam, sedih, ga bole. Pen makan rendang, sedih, ga bole. Padahal kalo kepengen banget ya makan aja, dikiit. Ngilangin kangen. Cheerleader πŸŽ‰πŸŽŠ

Bagi saya pribadi, lebih penting mengelola rasa, mengelola niat, mau melakukan apa-apa, untuk apa, untuk siapa, supaya kenapa, dan bagaimana caranya, cara melakukan apa-apa dengan bahagia. Rileks. Lepas, ikhlas.

Saya kurang setuju dengan orang-orang yang niat melakukan sesuatu, karena… ingin pengakuan, misalnya. “Saya mau buktiin ke si anu, si anu, si anu… kalo saya kuat.”

Pertanyaan saya, kalo kamu iya beneran kuat, bahkan lebih kuat dari yang kamu duga, emang si anunya peduli? 😊

Niat itu soal pilihan sih. Menurut saya nggak ada yang salah. Tapi sayang aja, kalo niatnya cuma segitu doang. Sayang banget.

Pasang dong niat besar, yang mulia, yang positif, yang terukur, detil, di tengah-tengah antara cita-cita idealis dan realistis. Contoh: saya mau sembuh, karena masih punya hutang sama Allah, mau bikin pesantren yatim dhuafa. Saya akan mulai dari, mewakafkan waktu luang saya untuk melayani ustadzah fulanah. Saya mau sembuh karena masih pingin berbakti pada orangtua.

Niatkan untuk pencapaian dunia dan akherat. Niatkan untuk caper sama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Dzat yang paling pantas kita persembahkan segala pembuktian dari seluruh kemampuan kita.

Niatkan juga, saya begini begitu, dalam rangka bersyukur kepada Allah, yang telah memberi saya ni’mat A,B,C sebut deh semua karunia-Nya.

Kenapa? Penting banget ya, ngelempengin niat? Menurut klean bagaimana? 😊 ayoo tulis komentar… Gantian, kasih saya feedback.