Tantangan, godaan, itu selalu, dan pasti, adaaa aja sepanjang perjalanan saya belajar Tajwid.

Saya baru merasa butuh belajar tajwid tahun 2014, di usia ke-42. Kenapa? Setelah saya melihat dan mendengar bacaan seseukhti yang baru beberapa tahun hijrah, sudah mengajar tajwid. Saya keteteran, bacaan saya dikoreksi terus. Dia ngasihtau, panjang pendeknya huruf itu penting, harus benar, supaya tidak mengubah arti. Dia tau saya nggak gampang didikte, maka dia bilang gini, “Kalo mau, kamu bisa belajar di alamat ini, guru-gurunya bersanad.”

Setelah placement test, saya masuk level satu. Satu halaqoh 8 murid, satu guru. Selain pakai buku latihan khusus, per tema. Quran yang digunakan juga standar internasional. Rosm Utsmani / Mushaf Madinah. Satu level lamanya 6 bulan, 24x pertemuan, sudah termasuk ujian. Satu pertemuan 2 jam.

Saya melihat, banyak mahmud, macan, jelita, lolita, semangat belajar tajwid. Datang 30 menit lebih awal, saya kenalan dengan “kakak kelas” saya banyak nyimak dulu.

Mereka bilang, “Belajar tajwid itu ga bole ja-im. Mulut harus berani buka, nyengir, monyong. Bawa cermin. Suara jahar, keras. Gapapa Salah, Yang Penting Kenceng. Ha-ha.”

Catet. 😊

Belajar tajwid juga, kalo mau bisaa, ga bole baperan, bolak-balik dikoreksi, ngambeeegg, besoknya banyak alesan, absen lagi, absen lagi. Gak naik level, ngambeeegg. Lahh?

Saya mahh tau dirii. Kalo emang belum pantas naik kelas, ngulang lagi ajaa nggakpapa, sampe mantep. Saya pengen bisa baca Qur’an yang Benar, bukan ngejar sertifikat. Saya menikmati proses KBM, saya mengulang latihan di rumah, saya ikutan ODOJ untuk mraktekin ilmu tajwid yang udah dipelajari. Saya nggak malu, nggak gengsi nanya, gimana sih caranya? Lidahnya lengket kemana? Mangapnya seberapa lebar? Gimana caranya, supaya huruf Nun dan Lam, ketika bersukun, nggak kepantul?

Saya dateng lebih awal, kenalan, deketin, banyak guru dan ibu-ibu kakak kelas, eskaesde, ngobrol, bawain makanan. Ujung-ujungnya minta dikoreksi bacaan.

Jarak tempuh dari rumah ke Sanggar sekitar 7-8 kilometer, rutenya macet asoy. Sekarang malah lebih jauh, Rawamangun-Condet 10 kilometer. Jadi saya harus target, paling telat keluar rumah jam berapa. Kalo sekiranya telaat, nyamperin opang, pilih mamang yang muda dan motornya bagus. Kehujanan, kepanasan, masuk angin, nggreges-greges, asal masih bisa jalan dan suara nggak hilang, saya tetep masuk.

Saya juga berdoa, minta sama Allah, melembutkan lidah, bibir, tenggorokan saya untuk membaca Kalam-Nya dengan tartil.

Godaan kemudian adalah, omset orderan dagangan saya, tumpah-tumpah. Jadwal pelatihan padat. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. Awalnya saya ge-er, ini berkah dari pengorbanan waktu saya untuk Al Quran. Lama-lama, malah jadi terlena, lalai, jarang ngerjain pe-er, mulai banyak absen. AstaghfiruLLaah wa atuwbu ilaih. 🤲

 

Godaan lebih besar lagi tahun 2016-2017 adalah tergiur tiket ✈️ murah, dan rezekinya juga pas lagi ada. Dua tahun saya sempfet cuti. Sibuk menikmati impian dunia, pelesiran ke mancanegara. Jordan, Palestine, Yunani, Turki, benua Asia, dalam negeri pun saya jelajahi pelosok Sumatera – Jawa, manjat gunung, wisata kuliner.
Saya lalai, dari Al Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman. Bermasalah. Usaha dagangan saya, pun. Bermasalah.
Sampai Maret 2018 dikasih bonus HER2+++ (kanker grade III) yang saya yakini banget ini adalah kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala , saya kembali gabung halaqoh Quran. Alhamdulillah alladzi bini’matihi tattimmush shalihaat. 🤲

Saya sudah merasakan bedanya, antara: ketika futur, lalai atau memberikan waktu sisa mengamalkan tajwid Al Quran. Dengan.. Mengawali hari bela-belain Quran dulu sebelum beraktivitas. Bangun dua-tiga jam lebih awal sebelum Subuh.

Waktu seperti terasa lebih berkah. Sudah ngerjain ini itu banyak hal, liat jam, lohh baru jam 10 pagi, kirain sudah dzuhur. Lebih produktif, dan hati nggak gampang baper. Gak gampang cemas, takut, kuatir, parno. Lebih santuy, woles. Lebih mudah ridhaa, bersyukur oleh sebab remeh temeh retjehan. Ini alasan saya gabung kembali dalam halaqoh Quran. Hubungan dengan orangtua, suami, anak-anak, teman-teman, Allah perbaiki. Jadi lebih indah. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. 💖

Tantangan masa kini adalah Pandemi, belajarnya dari rumah, ngandelin kuota dan sinyal internet yang byar pet byar pet. La haula wala quwata illa biLLah, semoga Allah kuatkan semangat belajar kita. Semoga Allah teguhkan tekad kita, semoga Allah limpahkan pertolongan-Nya, semoga dikuatkan kesabaran kita, dan kesabaran guru-guru kita, dalam menjalani KBM Tajdwid Al Quran. 🤲

Berharap back for good. 🤲 Ya Muqallibal Quluub. Tsabbit Quluubana ‘ala Thoo’atik. Allohumma inna nas aluka husnul khotimah. Allohumma taqobbal minna. Nastaghfiruka wa atuwbu ilaiK. 🤲

.

No photo description available.
.

Belajar teori tajwid hukumnya fardhu kifayah. Sedangkan mengamalkannya, yakni membaca Al Quran dengan tartil, sesuai kaidah tajwid, hukumnya FARDHU ‘AIN. 😊

Dalilnya?

Pertama:
Al Quran Surat Muzzammil ayat 4. Kita diperintahkan membaca Al Quran bukan hanya secara perlahan-lahan, tapi juga mempehatikan hukum-hukum bacaannya.

Kedua:
Rasulullah saw bersabda:

زين القرآن بأصواتكم

“Hiasilah Al Quran dengan suara kalian.” – Hadits Riwayat Abu Dawud & An Nasa’i

Ketiga:
Para Ulama Salaf dan Kholaf SEPAKAT tentang wajibnya mengamalkan Tajwid Al Quran.

Imam Ibnu Al Jazari berkata:
والأخذ بالتجويد حتم لازم
من لم يصحح القران آثم
لأنه به الإله أنزلا
وهكذا منه إلينا وصلا

“Membaca Al Quran dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang tidak membetulkan bacaan Al Qurannya, berdosa. Karena Allah menurunkannya dengan tajwid. Dan demikianlah Al Quran dari-Nya sampai kepada kita.”

Kesalahan-kesalahan yang fatal yang sering terjadi adalah:

1️⃣ Tidak sesuai makhraj / tempat keluar huruf.
2️⃣ Panjang pendeknya huruf yang dibaca.

Contoh:

1. Nun masih suka ketuker dengan Ba’
2. Jim masih suka ketuker dengan Kho’
3. Hamzah masih berbunyi ‘Ain atau sebaliknya.
4. Tidak ada huruf mad, dibaca panjang. Atau sebaliknya, ada huruf Mad tapi diabaikan, nyelonong bae.

Kenapa ini disebut kesalahan fatal? Karena bisa mengubah artinya. Makanya di atas tersebut, Imam Ibnu Al Jazari berfatwa, siapa yang tidak mau membetulkan bacaannya, berdosa.

Apa saja Keutamaan / Manfaat / Reward / Penghargaannya, ketika membaca Al Quran dengan mempraktekkan tajwidnya?

Setidaknya ada 5 benefitnya.

1️⃣ Mendapat syafaat pada hari Kiamat.
2️⃣ Merupakan amalan terbaik.
3️⃣ Mendapat derajat yang tinggi, bersama malaikat mulia kiromil baroroh.
4️⃣ Mendapat Sakinah (ketenangan, ketentraman, kedamaian, kecukupan) dan Rahmat.
5️⃣ Mendapatkan anugerah terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pernah ga, kita merasa sudah rajin baca Quran tapi masih sering galau, sering sedih, sering erosi-inyong, gangguan kesehatan, kecemasan.
Pirtinyiinnyi: Yakin bacanya sudah dengan tajwidnya juga? 😊

Tidak cukup hanya dengan bergabung komunitas hijrah, yang ustadz-ustadznya beken materi kajiannya keren. Tapi…

Tapi belum peduli, belum mau berkorban untuk mengamalkan tajwid Al Quran.

Kalo bacaan alfatihah saja masih salah makhraj dan panjang pendeknya masih nyelonong-nyelonong, shalatnya beresiko jadi tidak sah. Silakan tabayyun guru ngajinya. Bener ga, apa yang saya tulis.

Saya pernah belajar di Lembaga Tahsin bersanad. Sanggar Quran Mardani Lima, lulus pra-tahfidz. Setahun lebih menjalani pengobatan medis kanker, rindu duduk di halaqoh, maka mendaftarlah di Utsmani, lokasi Condet. Bersanad juga, lebih senior dari SQM. Saat ini saya masuk level 5. Talaqi dengan guru bersanad. Ma Syaa Allah tabarakallah.

Sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri. Tapi ngasih bukti. Saya nggak cuma nyuruh-nyuruh aja bisanya. Tapi saya lakukan dulu. Saya contohin dulu. Lead by example. Lead by inspiration.

Kajian tematik jumlahnya ribuan di youtube, kalo ketinggalan bisa saya simak ulang, sambil masak, sambil nyetrika, sambil bebenah rumah. Cukup sepekan sekali hadir duduk di halaqohnya, untuk silaturahim, atau jika perlu bertanya pada ustadznya. Sedangkan belajar tajwid harus talaqi, face to face, dikoreksi langsung, realtime. Penting juga ini, saya priooritaskan, saya bela-belain.

Kelak, di akherat, kalo ditanya, bagaimana kualitas bacaan Quran-mu? Saya jawab apa? Padahal telah sampai ilmunya, bahwa hukum membaca Al Quran dengan tajwid itu, fardhu ‘ain. Padahal banyak lembaga tahsin bersanad. Padahal banyak guru-guru bersanad. Saya jawab apa?

Seseguru berkata, bahwa belajar Al Quran adalah belajar tiada akhir. Yuk sediakan prioritas, waktu, tenaga, pikiran, semangat, kesabaran, dan sebagian harta kita, untuk terus belajar memperbaiki bacaan Al Quran kita. Wallahu’alam bish showab. Wallahu muwafiq. 🤲