Dikirimin foto ini sama oma Ida Abdul Hamid.

Awalnya nggak ‘ngehh ini foto kapan. Pas pake kacamata πŸ€“πŸ˜ƒ ahaaa. Jadi pen cerita ulang, sejarah foto ini.

Perhatiin deh, wajahku agak bengkak (moonface), sebelah mataku bintitan, ini adalah salah dua efek kemoterapi kelima. Sabtu kemo, Senin berangkat Haji. Pamitan, haru biru, pasrah menghadapi 40 hari berikutnya di Haromain.

Bawa bekal dua ampul Herceptin, yang ‘nyarisss ketinggalan. Sampai di Masjid Al Furqon jamaah keloter 59JKT – 2018 sudah ramai dan semua sibuk absen, registrasi koper, nyari bus masing-masing. Kami nyelonong aja naik bus. Cooler box ketinggalan di mobil adekku. Emakku yang inget, Fi obat, Fi obat. Alhamdulillah kebawa juga tuh Herceptin.

Herceptin obat apaan sih? Silakeun googling ya Mak. 😊

Melalui postingan ini kami cumaa mau ngingetin, kalo kita punya impian naik Haji, rencanakan sungguh-sungguh, dawamkan amalan yang terbaik dan fokus ya Mak. Korbankan dulu pengeluaran yang kurang mendesak. Fokus perbaiki kualitas dan kuantitas sholat, banyakin taubat, sedekah dan ‘nabung.

Pejeeng, gambar Ka’bah πŸ•‹ gede-gede di kamar, di ruang sholat, di ruang makan, di ruang tamu. Jadiin wallpaper di henpon dan laptop. Memperkuat afirmasi. Makin sering diliat, makin sering disholawatin, makin sering didoain, in syaa Allah jalan makin terbuka.

Tapi kok adaa, muslim yang biasa-biasa ajaa, nggak mendawamkan amalan-amalan di atas, malah cenderung suka dzholim, tapi bisaa pergi haji juga? Yupp. Bisa jadi Allah memanggil kita ke Tanah Suci, sebagai kasih sayang-Nya, kita dikasih kesempatan bertaubat.

Kita semua adalah pendosa , pelaku ma’siyat. Dan bertaubat nggak mesti nunggu panggilan Haji. Siapa yang yakin pede besok masih ada umur?

NastaghfiruLLaah wa atuwbu ilaiH. 🀲