Belajar keikhlasan bisa dari guru-guru esde. Mereka mengajar anak-anak calistung. Dan di kemudian hari, anak-anak tersebut hidup sangat sukses. Ada yang jadi ilmuwan, dosen, direktur BUMN, pengusaha dengan ratusan outlet di penjuru dunia, menteri, negarawan, ustadz, dan profesi keren lainnya. Dan sang guru tetap hidup bersahaja. Tersenyum haru bahagia melihat anak-anak didik mereka jadi “orang”.

 

Suatu saat, mungkin ada teman-teman lama yang kembali hadir, berterimakasih atas omongan kita waktu itu (yang kita sendiri lupa). Mereka terinspirasi, termotivasi, dan… Dengan ijin Allah, pencapaian prestasi mereka, hidup mereka berubah, jauh lebih baik. Mungkin saja kemudian kita diganggu syaithan dengan rasa “iri” melihat lompatan besar mereka. NastaghfiruLLaah.

 

Kita gantian belajar dari mereka, kenali, gali, keunggulan, karakter dan kebiasaan positif apa yang mereka punya, yang membedakan nasib mereka dengan kita. Ohh ternyata dia punya endurance kesabaran yang hebat banget, misalnya.

 

Sadari, pahami, dan syukuri. Semua dari Allah, semua ilmu dari Allah. Kita ngomong bla bla bla pun,, yang dulu kita pikir remeh temeh, ternyata ditangkap sebagai hikmah oleh orang lain, itu pun taufiq dari Allah. Kamu jadi wasilah, itu juga atas kehendak Allah. Jadi kenapa harus iri? Justru kita harus eling…. dan berdoa, semoga segala ucapan dan tindakan kita, Allah jaga, dan kita jaga juga, karena memang ada dampaknya ke orang lain.

 

Teman-teman lama ini Allah hadirkan kembali untuk ‘ngingetin kita, “Hai, apakabar, makasih ya, tetap sehat ya, tetap bahagia, dan tetap menginspirasi yang baik-baik ya. ”

 

===

 

Writing ✍️ is releasing.

Writing ✍️ is sharing.

Writing ✍️ is inspiring.

Writing ✍️ is just for fun.