SAYA PERNAH MENOLAK KEMOTERAPI

By: ‘Aafiyah Salma Lathifah.

Sempat tersesat di belantara informasi yang saya jelajah sendiri untuk ‘ngeles dari komitmen kemoterapi. Saya jalanin pola makan intermediate fasting (IF) ketofastosis (KF), yang menargetkan gula darah di bawah 60 untuk pasien kanker agar tidak relaps, katanya.

Saya terpengaruh testimonials, “Banyak lohh yang sembuh, tanpa kemoterapi, yang penting gula darah bertahan 55 atau kurang. Patuh protokol.”

Saya percaya dong. Komitmen bener jalanin pola makan IF-KF ini. Hanya makan lemak ikan dan atau ayam kampung. Ga makan karbohidrat kecuali bumbu. Enam pekan nggak makan sayur sih nggak masalah, karena saya nggak doyan sayur. Tapi terhalang dari buah-buahan? Ini bikin badan saya seperti orang sakaw. Liat orang lain makan pepaya, nanas, pisang, jambu, semangka. Badan panas dingin, pusing, emosi labil, temper, mual muntah, sembelit enam hari. Konsultasi dengan menthornya, slow respon terus. Dan jawaban yang saya terima, tidak pernah memuaskan keingintahuan saya. Makin stress, malah naik gula darah. Muncul lintasan pikiran, nanti kalo sampe kenapa-napa, siapa mau tanggungjawab? Mereka? Nggak yakin gue!

Tapi untuk beralih ke pengobatan alternatif, jejamuan, herbal-herbal, saya juga nggak percaya. Karena di setiap kemasan obat-obatan alternatif tertulis diclaimer, “Bila sakit berlanjut, hubungi dokter.”

Kembali saya googling informasi dengan kata kunci “pengobatan kanker payudara efektif” sambil sholat istikharah mohon petunjuk, jalan mana yang harus kutempuh. Saya mulai memberanikan diri bercerita lewat akun medsos, berharap ada penyitas kanker yang berkenan memberikan informasi yang valid.

Saya mendapat japrian dari sesedokter dan dua penyitas kanker. Saya baca pelan-pelan cerita mereka. Saya mulai membuka hati, mendengarkan pendapat suamiku yang pengalaman mendampingi ibunya kemoterapi tahun 2010. Ok, saya mau diajak ketemu dan diskusi dengan dokter onkologi.

Saya akui, waktu itu saya takut banget ngga kuat efek sampingnya. Saya pernah melihat pasien kemoterapi, bolak-balik transfusi, muntah-muntah, nggak bisa jalan, kepala botak, kulit menggelap, kurus kering, jelek. Saya takut sel-sel sehat saya ikutan hancur juga. Saya takut setelah kemoterapi, malah kesehatan saya memburuk, malah mati. Saya juga takut nggak sanggup membiayai pengobatan yang super mahal. Saya takut kami jatuh miskin gara-gara ngobatin saya. Tahun itu kami mau naik haji. Sudah manasik tiap Sabtu, saya kuatir banget gagal berangkat.

Dokter onkologi berhasil meyakinkan saya bahwa efek samping bisa diminimalisir. Obat kemoterapi jaman now udah canggih, premedikasi nggak bikin mual muntah hebat. Namanya juga badan sehat, terus dimasukin obat. Ada hari-hari nggak nyaman sedikit, tapi masih bisa beraktifitas, sholat, olahraga, dan tetap produktif. Botak, iya. Tapi setelah pengobatan selesai, tumbuh lagi kok rambutnya, lebih bagus.

Biaya gimana?

Kami memastikan ke pihak asuransi dan BPJS peluang jaminan pengobatan 6x kemoterapi dan 18x herceptin. Saya sudah mempersiapkan mental untuk jawaban terburuk. Saya pasrahkan diri kepada Ar Rahman Ar Rahiim.

“Ya Rabb, penyakit ini Engkau hadiahkan kepadaku pasti sepaket dengan hikmahnya dan jalan keluarnya. Jika umurku masih panjang, pasti Engkau beri jalan kesembuhan. Jika usiaku tak lama lagi, mohon ampuni dosa-dosaku dulu semuanya Ya Rabb. Dan aku tidak pernah kecewa (setelah berdoa) kepada-Mu. ”

Saya bicarakan rencana-rencana kepada keluarga, mana asset yang diwakafkan, mana yang saya akan jual. Bahkan saya sudah berwasiat kepada anak-anak, apapun yang terjadi, mereka harus tetap berjuang, melakukan yang terbaik, all-out, untuk meraih cita-cita. Saya datangi keluarga besar, minta maaf, minta keridhoan mereka. Tiap kopdar, saya minta maaf pada teman-teman. Dan mereka mendoakan kesembuhan saya dan kemudahan segala urusan kami. Saya mensyukuri karunia, keluarga dan sahabat mendukung penuh pilihan-pilihan saya.

Lima kali kemoterapi, delapan belas kali targeted therapy herceptin yang harganya luarbiasa, dan tiga puluh kali radiotherapy, Allah menolong kami. Fisik saya dikuatkan. Haji 42 hari nggak kena batuk-batuk, dikasih kekuatan jalan kaki belasan kilometer, makan apaaa aja terasa nikmat, ma syaa Allah. Biaya pun, dikasih jalan keluar yang tidak kami sangka-sangka, sehingga mobil yang kami jual untuk bekal pengobatan malah Allah ganti dengan yang lebih baik. La haula wa la quwata illa biLLaah.

11 Mei 2020 evaluasi keempat Alhamdulillah amaan bersih dari si caca. Allahu Akbar! ✊

Kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kekambuhan dan ujian penyakit berbahaya lainnya. Kami memohon kepada-Nya sehat wal’aafiyat di sisa usia. 🤲

Tidak semua yang kita harapkan, terwujud. Tidak semua yang kita kuatirkan, terjadi. Rencanakan saja yang terbaik, lakukan yang terbaik, tulus, team work, dan berserah diri kepada Allah Rabbul’alamiin. Dia Yang Paling Tahu apa yang terbaik buat kita.

Gimana caranya sabar?

Saya nggak tahu jawabannya. Tapi dari pengalaman kejadian ini, saya mengambil hikmah, banyak bersyukur dan makin berserah diri, bisa menjadi kekuatan dari sabar itu sendiri. Wallahu’alam bish showab.

Image may contain: one or more people and outdoor