“Hidup lu enak banget sih mbak, anak-anak loe, suami loe, emak loe, jalan-jalan kemana-mana, teman-teman banyak yang sayang banget sama loe, punya skill bisa nulis cerita, fisik loe kayak pake formalin, bla bla bla. ”

Ma Syaa Allah tabarakaLLaah.

Pertama, kami berlindung kepada Allah dari sifat sombong (mengakui) bahwa ini hasil kerja keras sendiri. La haula wa la quwata illa biLLaah. Ha dza min fadhli Robbi, ini semata-mata hanyalah karunia Tuhanku.

Kedua. Saya hanya menceritakan hal-hal yang saya ijinkan diketahui oleh orang lain di medsos. Klean tidak perlu tahu segalanya, bagaimana dan apa yang telah diambil dari kehidupan kami, what really we’ve been through.

Sejatinya, kalimat motivasi dan “celaan” yang saya tulis adalah based on true story. Kisah nyata. Jadi kalo saya terkesan blakblakan, galak, nyuruh-nyuruh, atau ketinggian mengkhayal. Ya emang gitu ceritanya. Semua berawal dari mimpi, impian, harapan, doa. Berawal dari nol? Bukan. Berawal dari minus ilmu.

Tapi kita punya Allah Yang Maha Kaya, Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Pelindung, Yang Maha Mengetahui.

Pelan-pelan, dikasih jalannya, ya jalanin dengan sabar dan syukur. Jalanin dengan cinta.  Saya kurang suka mengeluh karena mengeluh itu menjauhkan kita dari impian kita. Mengeluh bahkan bisa membatalkan doa-doa yang telah naik ke langit. Bukan berarti kita nggak boleh mengeluh.

Sekecil apapun pencapaian, bersyukurlah yang lebaaayy. Bahkan ketika kita selamat dari terpotong pisau dapur. Atau ketika pulang dari mana-mana, sampai rumah dengan selamat. Bahkan untuk setiap tarikan napas, untuk penglihatan, pendengaran, kaki yang masih bisa melangkah, jantung yang berdetak tanpa alat bantu, semua paket bawaan di tubuh kita.

“Bersyukurlah, kalo kamu bersyukur maka akan Kutambah nikmatKu, kalo kamu ingkar maka sesungguhnya azabKu sangat dahsyat.” QS ibrahim : 7.