Sedih juga liat nasib pasangan muda yang menikah lewat jalur taaruf tanpa pacaran yang kini sedang jadi bulan-bulanan media. Semoga Allah menjaga kekuatan iman mereka berdua.

Bukan taarufnya yang salah. Tapi mental keduanya yang harus ditambahin lagi bekal ilmunya. Visi misi tentang pernikahan dan kejujuran itu modal utama pernikahan lewat jalur taaruf.

Niatnya menikah jangan cuma sebatas “agar tidak berzina” tapi harus punya visi misi yang jelas, yang besar, yang long lasting. Menikah itu ibarat berlayar di laut lepas. Baik nahkoda maupun navigator harus punya destinasi yang sama, paham jalur pelayarannya, keadaan cuaca, kekuatan kapal, serta kecukupan perbekalan.

Kejujuran. Mutlak pake banget. Keduanya harus terbuka, cerita kekurangannya juga, misalnya tidur ngiler, ngorok, atau abis makan sendawa, atau bangun pagi kentut, atau kalo mandi lamaaa, atau kalo marah atau panik kecepatan bicara bisa 300 kilometer per jam.

Termasuk silsilah keluarga. Siapa bapaknya, ibunya, bagaimana pola asuh di rumah masing-masing. Nilai-nilai apa yang prinsip. Pernah ada kejadian apa yang sangat berkesan banget, atau trauma. Hal-hal apa saja yang disukai / tidak suka. Masih punya cita-cita apa saja yang akan diraih.

Istikharah, dan bebaskan hati dari baper. Sehingga, kalo nggak jadi, akan lebih enteng move on.

Teman saya banyaaakk yang menikah lewat jalur taaruf, bukan dari keluarga yang tajir melintir. Ada yang masih mahasiswa sudah menikah. Alhamdulillah sampai detik ini awet adem ayem aja tuh, 25 tahun, 30 tahun. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah. Ya karena selain terus menerus memperbaiki niat, mereka juga terus bergerak ke arah tujuan besar mereka, sambil belajar lagi mengenal dan memahami pasangannya. Karena manusia, makhluk perubahan.

Ini yang saya lihat dari pernikahan mereka. Semoga Allah jaga terus, Allah kuatkan ikatan cinta mereka, sehidup sesurga. BarokaLLohufihim.🤲