Saya percaya kita semua bukan orang yang ketika beramal niatnya untuk pamer, riya’ atau ujub. – Enggak… Kita bukan yang kekgitu.

Tapi…

Ketika orang lain berterimakasih kemudian memuji-muji selangit, syaithan langsung tuh terlibat, mendramatisir pujian-pujian itu. Ketika kita masukin dalem hati, jadi deh. Ujub. – nastaghfirullah wa na’udzubillahi min dzalik.

Atau ketika kita mendengar pujiannya buat orang lain, closingnya ke competitor, penghargaannya, pialanya, promosi jabatannya buat orang lain, yang menurut kita nggak ngapa-ngapain, padahal kita yang entertain, kita yang capek, kita yang berkorban banyak. Syaithan semangat banget ngipasin tuhh.

Atau ketika dicela, diremehin, dikomentarin, “Loe banyak dosa sihh. Kurang sedekah sihh. Kurang dzikir sih loe.” Syaithan pun langsung memprovokasi. Kalo sampe ngaku bilang, “Gue sholat tahajud kok. Gue sedekah kok, ke sana, ke sini, ke situ, sekian juta, sekian juta. Gue dzikir kok seribu kali, lima ribu kali.” Jadi deh, riya. – nastaghfirullah wa na’udzubillahi min dzalik. 🤲

Seseguru pernah sharing, bahwa, niat itu ada tiga waktu, di awal, pertengahan, dan akhir. Orang yang ikhlas adalah orang yang terus menerus berusaha menjaga, membersihkan niatnya.

Dengan cara bagaimana?
Pertama, istighfar banyakin lagi.
Kedua. Memuji Allah, karena dia sadar, bahwa segala kekuatannya beramal itu, dari Allah, atas pertolongan Allah.
Ketiga, terus saja beramal dalam diam maupun syiar.

Karena kalimat “yang ikhlas, yaa” … atau… “yang ikhlas, doong” …. itu bukan lip service Gaiss. 😊

Menjadi orang yang ikhlas itu proses yang benar-benar tidak mudah, perjalanan yang panjang, banyak kejutan, ibarat jalan di jembatan nyebrang jurang, kita butuh pegangan, maka selalu butuh berjamaah dan tambahan ilmu. Teorinya simpel. Nasehatin orang lain apalagi. Giliran harus praktek ke diri sendiri, termehek-mehek. La haula wa la quwata illa biLLaah.