Jam 10 pagi sebuah pesan teks masuk, “Ayah, ibu, hasil seleksi S1 LIPIA sudah diumumkan. Qadarullah namaku nggak ada dalam daftar.”

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku langsung lari masuk kamarnya, memeluknya.

Paham, tidak mudah perjuangan dua tahun di level i’dad lughowi sebagai syarat seleksi Program S1 Syariah universitas bergengsi afiliasi Riyad Saudi Arabia. Saya tauu dia belajar sampe begadang, dan sakit tifus.

Syaithan coba memprovokasi kami lewat, blaming, nyalahin sistim, nyalahin si A, B, C.

Saya berusaha mengkaunter lintasan pikiran liar ini dengan kalimat, “Tidak ada kerja keras yang sia-sia, yang ada hanya.. ikhtiar terbaik untuk Qadha Qadar terbaik saja. Jalanmu memang lewat sini, Nak.”

Dia ngangguk-ngangguk, tak lama kemudian menjawab, “Aku tau diri, bu. Selama ini kepingin apaa aja, dapet, mudah, hampir tanpa delay. Sekarang aku sedang mencerna hikmahnya. Omongan ibuk banyak pengaruh jalan hidupku. Dulu ibuk pernah bilang ikut lomba, buat dapetin temen lebih banyak, guru lebih banyak, ilmu lebih banyak, menang juara itu bonus, ketemu orang penting itu bonus, keliling Indonesia, ke luar negeri itu bonus. Dulu ibuk pernah bilang pengen aku belajar Quran di Madinah, terwujud. Bu, aku mau percaya, ini adalah jalan menuju mimpi yang lain.”

Ma Syaa Allah tabarakaLLaah.

Semoga Allah ganti dengan yang lebih baik, yang terbaik bagi dirinya, agamanya, keluarganya, hartanya, cita-cita dunianya, dan akhiratnya. Semoga dikuatkan, dicukupkan rezekinya, dan dilindungi Allah dengan penjagaan terbaik-Nya.

La haula wa la quwata illa biLLaah.. 🤲