Saya tidak tertarik debat kusir. Buang umur. Masing-masing aja, ya. Saling menghormati.

Saya termasuk golongan yang percaya eksistensi makhluk ini. Lahh aku tinggal di Rawamangun, secara tetanggaan RS rujukan. Tiap hari denger sirine ambulan. Liat ratusan polisi. Liat barracuda nyemprotin desinfektan.

Saya cek kesehatan rutin di RS Mitra Kemayoran, sebelahan banget plek Wisma Atlit yang dijagain ratusan tentara dan barracuda.

Saya kenal banyak paramedis, dokter, bidan. Baca jurnal kesehatan, nyimak obrolan pakar biologi yang nggak ada hubungannya dengan partai politik.

Trus, orang-orang yang kukenal baik, dites swab qadarullah positif. Kemarin ada yang wafat setelah pasang ventilator di ICU hitungan jam. Ada juga yang isolasi mandiri, nggak kenapa-napa, alias otege.

Saya kurang sepakat kalo berita pandemi ini diklaim pengalihan isu politik apalah-apalah. Naif banged. Bukan berarti saya nggak peduli politik, tapi saya lebih suka doing something real untuk memperbaiki keadaan. Kalo kita punya kompetensi, masuklah di pemerintahan. Tapi kalo nggak mampu?

Pemimpin saya, ulama. Kalo ulama berfatwa lakukan sesuatu, sami’na wa atho’na.. Sekarang ulama pada fokus ngajarin Quran, hadits, fiqh, iman, taqwa, bikin usaha ini itu anu untuk menggerakkan roda perekonomian umat. Bahkan sekelas Aa Gym masih ngingetin taat protokol kesehatan. Saya lebih concern mendukung hal-hal tersebut dengan aksi nyata, yang saya mampu.

Informasi yang valid itu, berasal dari pihak yang kompeten. Tentang surga dan neraka, dengerin kata ulama. Tentang virus, dengerin kata dokter dan pakar biologi. Jangan kebalik ya Gais.