Menjawab Ketakutan Menempuh Ikhtiar Medis.

By: ‘Afiyah Salma Lathifa.

Perempuan pasti sedikit banyak disergap rasa takut ketika pertama kali mengetahui ada yang tidak biasa di bagian ketiak dan payudara.

Wajar. Manusiawi. Normal.

Ada yang kemudian menceritakan pada orang terdekat, ada yang dia simpan sendiri, sok cuek, ada juga yang diam-diam nyaritau info sendiri, googling.

Sama, saya juga kok. Tapi saya memilih tidak mengabaikan benjolan. Karena saya pernah belajar mengenal mana benjolan yang okay, fine, mana yang berbahaya. Kelainan yang harus dikonsultasikan ke dokter, contohnya, bejolannya keras, tidak sakit, atau peradangan mirip bisul di ketiak, atau putting tenggelam, atau keluhan gatal. Segera konsultasi ke dokter.

Banyak perempuan yang takut ketemu dokter karena takut seluruh payudaranya dibuang. Padahal kalo konsultasinya dengan dokter bedah onkologi atau dokter spesialis penyakit dalam KHOM (konsultan hematologi onkologi medik) tidak semua kasus ditindak mastektomi. Teman-teman yang saya kenal, ada yang cuma dibuang benjolannya saja (setelah 6-8 kali kemoterapi). Payudara selamat. Kok bisa? Ya bisa. Segera. Jangan menunda ketemu dokter.

Waktu saya tahun 2018 lalu, benjolannya sebiji kedelai, keras, dan tidak sakit. Ketauan pas mandi. Pekan kedua saya berani ketemu dokter. Diobservasi lengkap, USG, mamografi. Dalam 72 jam sudah dioperasi. Buang tumor saja. Ketauan si caca grade tiga, jenis yang lincah banget, yang kalo lelet-lelet ditindak, larinya bisa kemana-mana. Na’udzubillahi min dzalik. 🤲

Ketakutan kedua adalah biaya pengobatan. Sama, saya juga dulu sempfet mikir, kalo sampek harus ngabisin tabungan dan jual rumah, mending saya ‘ngalah aja, yang penting anak-anak bisa lanjut sekolah. Masa depan mereka lebih penting. Herceptin untuk kasus saya tidak dikaver BPJS. Padahal saya butuh 18 kali infus, dan per kantong harganya 25jutaan.

Saya teringat cerita Ustadzah Tri Handayani yang 22 tahun hidup damai dengan kanker, 17 kali operasi, jaman dulu belum ada BPJS, sekarang beliau masih hidup dalam sehat walafiyat. Beliau memperbanyak sholat dan tilawah Quran, khatam dalam 3-10 hari. Pertolongan Allah selalu datang dari jalan yang tak disangka-sangka. Saya ikutin amalannya.

Saya juga setting pikiran: Allah itu ngasih ujian pasti sepaket dengan jalan keluarnya. Kalo umurku masih panjang, pasti ada jalan kesembuhan. Lalu kami caritahu informasi asuransi kesehatan di kantor suami. Beliau sudah 25 tahun mengabdi, dan gaji bulanannya dipotong terus, buat bayar premi asuransi, ditambah lagi BPJS, dan ini wajib!

Alhamdulillah. Ada cahaya.
Herceptin saya dikaver 100%. Ma Syaa Allah tabarakaLLaah.

So, teman-teman. Saran saya, kenali tubuh kita. Perhatikan. Dengarkan suara hati. Jangan takut ke dokter. Segera konsultasi. Jangan tunda. Tapi ketika keadaan kalian tidak seberuntung saya, berusahalah belajar ridho seperti Ustadzah Tri Handayani.

Yakinlah dan percaya, segala ujian pasti baik dampaknya bagi orang beriman. Ada derajat kemuliaan di sisi Allah yang tidak bisa diraih, kecuali lewat ujian saat ini. Ada kebahagiaan di ujungnya. Perbanyak syukur, perbanyak taubat, sholat, perbanyak berduaan ngobrol sama Yang Ngasih ujian, tetap bersedekah, tetap tilawah, sampai kunci jawabannya dikasih.

Menulis, memercik semangat.