Pengumuman naik level dan daftar pembagian kelas baru Utsmani sudah dirilis. Ada tiga sahabat saya yang qadaruLLaah mengulang di level semester lalu. Pasti ada rasa sedih, kecewa, karena mereka nggak lulus bukan karena nggak belajar, tapi memang standar kelulusan di Utsmani yang tinggi.

Saya japri satu-satu. Cerita pengalaman belajar tajwid di Sanggar Quran Mardani Lima 2013-2015 saya juga ngalamin dua kali tinggal kelas. Level empat, mengulang. Level lima (pratahfidz) juga mengulang. Saya lupa level empat atau lima, mengulangnya dua kali. Pernah minta sama guru-gurunya, saya maunya mengulang lagi saja Ustadzah.

Mungkin saya abnormal ya, di saat orang lain sedih kecewa karena nggak naik kelas. Saya malah seneng. Kenapa?

Pertama, saya ngerasa, belajar di level berapa aja tetep Fun, menyenangkan. Apa yang bikin seneng? Suasana belajarnya. Teman belajar. Kalo tinggal kelas, saya dapet temen-temen baru, kenalan guru baru. Guru saya tambah banyak, karena teman-sekelas juga guru buat saya.

Kedua, saya merasa belum pantas naik kelas, belum memenuhi target minimal pencapaian semester tersebut. Saya sering dengerin murotal yang kecepatan bacaannya paling lambat. Saya ikutin dengan suara keras, dan masih keteteran.

Ketiga, cita-cita saya waktu itu kepingin belajar di Utsmani, jadi saya pikir harus memantaskan diri dulu dong. Gakpapa ngulang, sampe mantep, pede. Saya naikin standar buat diri sendiri.

Keempat, saya ikutan ODOJ, kegiatan ini sangat membantu melemaskan lidah, melatih fokus, keseimbangan koordinasi antara indera penglihatan, pendengaran, dan pengucapan. Saya perhatikan huruf demi huruf beserta harokatnya, tanda tajwidnya, ghunnahnya dan sebagainya. Masukkan informasi tersebut ke otak. Otak memerintah mulut, lidah, paru-paru, pita suara. Telinga mengevaluasi apakah bunyi yang keluar sudah benar sesuai kaidah.

Saya naikkan standar, dengan mendengarkan murotal Syaikh Ayman Suwaid, Abdullah Basfar, Aziz Alili, Ibrahim Al Akhdar.

Ya, on-off, on-off, on-off namanya juga manusia, keadaan imannya fluktuatif. Tapi saya tidak mau menyerah. Kenapa?

Kelima, saya dengerin kajian-kajian motivasi belajar Quran, gimana caranya menjaga semangat belajar. Oh ternyata perlu meluruskan niat, bukan semata-mata kepingin naik kelas, atau kepingin pintar tajwidnya, tapi lebih kepada “saya ingin jadi sahabat Quran.” Saya ingin perjuangan saya belajar Quran ini jadi penghapus dosa-dosa saya, dan dosa orangtua, dan menjadi wasilah reuni di Surga.

اللهم ارحنا بالقرآن…🤲

Semoga Allah melimpahkan karunia istiqomah kepada kita semua. Alhamdulillah! Luar biasa! Tetap semangat! Bersama Al Quran, kita lebih bahagia! Allahu Akbar ✊😃