Februari 2018 manasik haji pertama, tiap Sabtu jam 8 pagi sampai jam 3 sore, di aula Masjid Al Furqon Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. Pembekalan jamaah haji keloter 59JKG diagendakan sepuluh pertemuan, plesss pemeriksaan kesehatan jamaah di Puskesmas Kecamatan Senen pada tanggal 13 Maret 2018.

14 Maret 2018 pagi, pada saat mandi, saya merasakan benjolan di payudara kanan, bagian atas aereola. Benjolan kecil, keras, dan nggak lari-lari. Benjolan tidak biasa, karena itu hari ketiga saya baru bersih dari haid. Logika saya berusaha keras menyangkal kata hati. Tapi saya tetap ke dokter untuk memastikan, ini apa.

20 Maret 2018 observasi, USG, mamografi, dokter Alfiah Amiruddin menyarankan operasi, biopsi benjolan tersebut di luar tubuh saya. Saya tanda tangan berkas, sholat istikharah, tanggal 22 Maret 2018 tindakan, dan tiga jam setelahnya dokter memberitahu kami, ini kanker. Tapi belum ketauan karakternya bagaimana, jadi jaringan tumor dibawa ke bagian patologi UI untuk diteliti IHK-nya. Sebulan kemudian baru ketauan statusnya, triple positive.

12 Mei 2018 kemoterapi pertama, saya cerita sama dokter Findy KHOM, kami mau haji 42 hari, apakah memungkinkan. Beliau coret-coret kalender, menghitung berapa kemo yang saya dapat. Alhamdulillah beliau mengijinkan kami dengan banyak syarat dan bekal tambahan.

Ada minggu tenang pasca kemoterapi dimana saya bisa melakukan aktivitas seperti halnya orang sehat, ke pasar, masak, antar jemput anak, olahraga. Sebagai bekal haji, saya manfaatkan minggu tenang ini dengan latihan jalan kaki siang hari selama 30-60 menit, setiap hari. Tapi ketika kemoterapi lagi, sampai H+5 saya di rumah aja, berjemur, olahraga sambil duduk, peregangan ringan, asal otot bergerak sudah cukup. Minum 3 liter sehari. Buah, sayuran, mendominasi menu harian saya.

5 Agustus 2018 kemoterapi kelima, secara kekuatan fisik banyak berubah, muka bengkak (moonface), mulut sariawan, mata bintitan belekan, bangun tidur pagi punggung bawah nyeri ngebet kayak bisulan.

Saya memasrahkan diri, berdoa tidak ngotot minta sembuh, tapi terserah Allah aja deh, kalo sehat panjang umur akan membawa kebaikan bagi banyak orang maka saya minta petunjuk, dikasitau jalannya, dikasih tanda. Kalo umur saya masih panjang berarti misi saya di dunia belum selesai, maka saya minta kekuatan untuk menunaikannya. Saya tidak khawatir anak-anak, karena mereka adalah titipan-Nya, saya sangat yakin dan percaya Dia tidak akan menelantarkan anak-anak saya.

Haji adalah tentang ibadah fisik. Dalam kondisi amburadul efek samping kemoterapi kelima, yang ada di otak saya waktu itu, saya punya dua kemungkinan, pulang sehat atau pulang nama. Saya berdoa, kalo harus pulang nama, saya mau pulang dalam keadaan syahid Ya Allah, dalam keadaan Engkau ampuni dosa-dosa saya, dalam keadaan Engkau ridho kepadaku.

Masuk kota Makkah, umroh pertama saya thawaf dan sa-i dengan duduk di kursi roda, didorong petugas haji. Ya, terpisah dari suami, karena lantai jamaah berkursi roda berbeda dengan lantai jamaah jalan kaki. H-1 wukuf di Padang ‘Arofah saya sempat kena heatstroke dan dehidrasi. Rasanya seperti seluruh badan dijepit tembok-tembok besar, depan belakang samping atas bawah. Saya menangis dalam hati, “Boleh nggak, dijemput pulangnya besok aja setelah wukuf, banyak titipan doa orang-orang yang belum saya panjatkan.” Suhu udara pada saat itu sekitar 44-45 derajat selsius. Pasien kemoterapi darahnya kental, minum 3 liter ngga kekejar. Alhamdulillah setelah masuk infus 2 botol, badan saya kembali sehat.

Lontar jumroh pertama saya diwakilkan oleh suami. Saya nunggu di dalam tenda, sambil berdoa mohon ijin dan ridho-Nya, agar dimampukan melontar jumroh kedua dan ketiga. Saya makan banyak, buah-buahan, kurma, minum zamzam. Memperbanyak istighfar. Hingga suami selesai lontar jumroh pertama, saya tanya-tanya, kira-kira jarak tempuh PP berapa kilometer, medannya gimana, terjal nggak, saya nggak ngoyo minta ijin suami. Tapi saya minta ijin Sang Pemilik Kekuatan.

Ketika Dia ijinkan, suamiku pun pasti mendukung. Alhamdulillah lontar jumroh kedua dan ketiga saya ikut rombongan keloter 59JKG. Berangkat dari Mina jam 3 pagi, selesai rangkaian jumroh jam 7 pagi, jalan kaki sekitar 14 kilometer. Rasa percaya diri muncul, saya pasang target, setiap hari harus thawaf. Sholat harus di Masjidil Harom sambil memandang Ka’bah. Bukan hanya target ibadah, tapi hasrat travelling saya pun muncul, kami jalan-jalan ke Kota Thaif yang berudara sejuk kayak di Puncak Pass, makan buah delima segar, main wahana macam Dufan, dan naik telefric menyusuri dan melihat pemandangan gurun batu yang keren, Ma Syaa Allah tabarakaLLah.

Selama di tanah suci, saya tidak pernah ngerasain makanan yang ngga enak. Semuanya enak dan enak banget. Makin bersyukur makin melimpah itu makanan segabruk-gabruk. Kami sering langsung bagikan lagi ke petugas kebersihan, supaya nggak mubazir, dan supaya mereka makan makanan yang masih baru bagus.

Impianku, haji reguler 40 hari. Allah kasih 42 hari, di waktu terbaik, dalam keadaan terbaik, dan Alhamdulillah saya pulang sehat, Gais.

Berarti misi saya belum selesai.

Saat ini saya sedang melanjutkan belajar Al Quran dan mulai membagikan ilmu, mengajar tahsin. Mohon dukungan doanya, ya Gais. – semoga istiqomah. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca ceritaku. Semoga bermanfaat. Salam sehat.