Dulu tahun 2018 aku merasa tersinggung setiap denger orang bilang, “Cepet sembuh ya Fi, gapapa sakit menghapus dosa.” Jadi cuma gue nih, yang berdosa, yang pantas dihukum dengan kanker? Jadi klean yang sehat, semua bersih dari dosa?

Saat itu saya baru mulai belajar makna RIDHO, legowo menerima ketetapan Allah, butuh waktu yang tidak sebentar. Prosesnya menyakitkan, ngeselin, bikin marah, sedih, kecewa, campur aduk. Terimakasih penuh cinta untuk klean yang super sabaarrr banget, menerima keputusan-keputusan saya tanpa ngejudge. Tetap sayang, tetap mendukung, menemani, dan mendoakan kami. Hanya Allah Yang mampu membalas segala kebaikan klean ๐Ÿ’–

Berbulan-bulan saya berusaha mencerna. Saya nonton kajian-kajian hikmah sakit, berulang-ulang, ada kali seratus kali. Berbulan-bulan juga saya berdoa mohon kekuatan hati, Qolbun Salim, hati yang selamat, hati yang ridho, hati yang bersyukur.

Suatu hari dalam keadaan sedang rileks, kayak nonton film , saya melihat gambar-gambar bagus, karunia Allah, nikmat-nikmat Allah atas diri saya selama 45 tahun sebelum kanker. Momen-momen terbaik, puncak bahagia, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Keren banget. Tapi kemudian saya melihat juga, dosa-dosa saya. Kepada Allah, terhadap orangtua, pasangan, anak-anak, teman-teman, saudara, kepada alam, bahkan diri sendiri. Auto nyesek.๐Ÿ˜ญ … Fixed : saya manusia zalim, nista, dan penuh kesombongan.

Saat itulah saya menyerah kepada Allah, menerima kebenaran ayat,

โ€œDan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).โ€ (QS. Asy Syuraa: 30)

Sesahabat pernah bilang, dia mengamalkan ini, kalo sakit, bertaubat dulu, baru berobat. Kalo kena bala’ apapun, taubat dulu, baru ikhtiar nyari solusi.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.