Kalo ditanya kejadian apa yang paling berkesan dalam hidupku, pasti kujawab: Haji.

Berangkat sepekan pasca kemoterapi kelima, dalam keadaan 2L2B. Lemah, letoy, belekan, bisulan, efek samping kemoterapi. H-1 wukuf, naik bus ke ‘Arofah, masuk tenda, dan aku pun jatuh pingsan, kena heatstroke. Pasien kemoterapi memang darahnya kental. Jadi sehari minum 3 liter pun, dengan cuaca di ‘Arofah, nggak kekejar memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Tetep butuh infus.

Dokter cantik ini dengan berani “memaksa” Ustadz dan bapak-bapak membuka tenda lebih banyak pintu supaya pertukaran udara lebih lancar.

Karena setelah aku, menyusul 4 jamaah pingsan juga. Satu tenda isi 300 orang. Pintu tenda cuma 4. Akhirnya tenda terpal itu digunting (petugas orang Arab).

QadaruLLaah sorenya angin kuenceeng banget. Liat tenda udah doyong, Ustadz pembimbing kami memandu istighfar bersama-sama.

Teman-teman satu keloter (ibu-ibunya) keroyokan bantuin dokter. Ada yang ngambilin es batu, ada yang nyiramin kepalaku, ada yang mengendurkan baju dalamku, ada yang mijitin kaki, ada yang ngajak ngomong manggil-manggil namaku. Ma shaa Allah.

Jadi ketika dokter cantik ini menyapaku barusan, setelah 3 tahun tak bertemu, termehek-mehek dooong gue. 😭 haruuu. Bahagia. Surprised.. dan kangen!