Salah satu hikmah pandemi, aplikasi kurir ekspedisi, ojek online, dan market place bersaing ketat, kualitas layanan dan jorjoran diskon. Kaum rebahan menang banyak. Kirim paket nggak perlu jauh-jauh antri di kantor pos/tiki/jne. Paketnya dijemput kurir. Tinggal klik. Kemarin kirim dokumen dan buku. Tempo hari jajan Sushi, mie ayam, roti tawar, bawang bombay. Daftar konsultasi ke dokter dan belanja obat pun online. Aplikasi yang kupakai, Gojek, Grab, Help, Lazada, Halodoc, dan Shopee.

“Kalo semua orang kayak kamu, pasar jadi sepi, dooong? Kok tega sih? Kasian kaan, pedagang di pasar.”

Jangan lebay, ah. Tidak mungkin semua orang pilihannya sama. Rezeki sudah dibandrol. Aku belanja online tidak mengurangi rezeki pedagang di pasar, tidak menambah kaya pemilik market place. Sudah sunnatullahnya, orang-orang yang memiliki ilmu lebih, dan mengamalkannya, akan lebih menghasilkan pundi-pundi. Suka atau tidak, pedagang / pengusaha muslim harus mau bersaing dalam kualitas layanan. Bikin aplikasi, atau kerjasama dengan pemilik aplikasi.

Alasan pertama. Saya pemalas. Salah satu hiburan saya adalah, makan. Jadi pilihannya cuma, masak, atau jajan. Untuk yang enak tapi ribet, prosesnya lama, njelimet, aku prefer jajan ajah. Tapi jalan ke resto, cafe, or warung makan. Malesin akutu.

Alasan kedua, di masa pandemi semua anggota keluarga harus lebih ketat lagi dalam BERHEMAT, harus pintar-pintar mengelola keuangan rumahtangga. Selisih dua ribu perak aja diaudit. Apalagi sampe dua puluh ribuan. Makin dekat warungnya, makin hemat ongkir. Kalo bisa berhemat lebih banyak, selisihnya bisa untuk berbagi. Dalam keterbatasan kadang kita harus memilih antara idealisme vs maslahat. Terserah mau dicap “nguntungin konglomerat” atau apalah-apalah. Bodo amat.

Alasan ketiga, nggak perlu antri di kasir atau masuk dalam kerumunan di pasar, mengurangi peluang terpapar penyakit berbahaya. Menyelamatkan nyawa orang-orang di rumah ini hukumnya fardhu ‘ain.

Alasan keempat, tetap bisa menjalin silaturahim dan berbagi hadiah, ke rumah orangtua, guru-guru, atau sahabat yang jauh-jauh. Tinggal klik. Cari warung atau toko terdekat dengan alamat tujuan.

Alasan kelima, kebebasan memilih penjual. Produk boleh sama. Tapi rezeki beda-beda. Saya pasti lebih suka jajan sama tetangga atau teman-teman yang saya kenal betul orangnya amanah, dan sifatnya menyenangkan. Sedangkan kalo belanja di toko online, saya bersedia meluangkan waktu untuk ngebacain dulu review atau ulasan pelanggan-pelanggannya.

Alasan keenam. Kebebasan memilih produk terbaik. Saya pernah belanja mukena buat hadiah, langsung ngeklik toko di Bukittinggi, Tasikmalaya, atau Denpasar. Daster bagus nemu di Pekalongan. Pernah juga nyari parfum Misk Thaharah merk Surati sampai ke Solo, karena di Jabodetabek belum ketemu.

Alasan ketujuh, isi mall sampai pasar loak, dalam genggaman. Mulai dari makanan, alat dapur, kamar mandi, elektronik, skincare atau krimbat Hair Spa ala-ala salon, hingga buku-buku jadul. Mau yang murmer, sejuta umat, atau merk-merk terkenal. Mau yang bonusnya segabruk, atau yang diskonnya sampe sembilan puluh persen. Tinggal scroll-up scroll-down.

Alasan ke delapan. Praktis.  Hemat waktu.

Alasan kesembilan. Bisa membantu calon pelanggan berikutnya dengan penilaian dan ulasan dari kita. Bagaimana kualitas produk. Lama waktu pengemasan. Kualitas packing. Kurirnya. Hingga respon penjualnya.

Alasan kesepuluh. Memperluas wawasan pengetahuan tentang sebuah produk dan manfaatnya, baik dari penjelasan di kotak detail produk maupun ulasan pelanggannya. Kalo saya masih kepo, pingin tahu lebih dalam lagi, saya googling.

Inilah 10 alasan kenapa saya memilih belanja online.