Yang kuyakini, hidup ini adalah ujian, ladang kebaikan bagi orang beriman. Ada yang diuji dengan kehilangan hartanya, kesehatannya, pasangannya, keturunannya, atau bahkan kemerdekaan hak asasinya seperti bangsa Palestina.

Ujian itu selalu sesuai, setara, dengan kapasitas kekuatan keimanan hamba-Nya, berarti semakin hebat ujiannya semakin tinggi pula derajat keimanannya di sisi Tuhannya.

Bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan, ini janji Allah, dan siapakah yang lebih menepati janji selain Allah? Tidak ada! Manusia bisa dengan mudahnya ngeles dari janji. Atau memang keadaan memaksanya tidak mampu menepati janji. Tapi Allah Maha Kuasa, Maha Menepati Janji.

Ujian itu selalu sepaket dengan jalan keluar dan hikmahnya. Tentu saja term and conditions applied, syarat dan ketentuan berlaku.

Orang-orang beriman, sebelum minta tolong manusia, pasti minta tolong dulu habis-habisan sama Allah Ta’ala. Dia perbaiki hubungan dengan Tuhannya dulu, contoh; kalo belum berhijab, atau berhijab tapi masih on-off on-off, hijrah jadi hijaber rapih istiqomah. Kalo sebelumnya sholat fardhunya masih on-off on-off, hijrah jadi on-time lima waktu setiap hari.

Kalo sebelumnya jarang nimbrung kajian-kajian Islam, pengajian, ceramah, bedah buku, seminar keislaman, hijrah jadi lebih semangat hadir fokus menuntut ilmu.

Kalo sebelumnya sudah keren amalan-amalan wajibnya, hijrah jadi berusaha tambahin amalan sunnahnya. Rawatib, dhuha, tahajud, puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh, dan lain-lain.

Kalo sebelumnya jarang banget bertaubat, hijrah jadi tiap sholat, tiap sujud, bertaubat. Kalo sebelumnya berdoa sambil lalu, hijrah jadi makin sungguh² makin khusyu berdoanya.

Kalo sebelumnya jarang banget baca Quran, atau baca Quran tiap hari 1-2 halaman, hijrah jadi 5 halaman, 10 halaman, satu juz, setiap hari. Gabung kelas tajwid tahsin.

Kalo sebelumnya di komunitas-komunitas lebih suka jadi silent readers, hijrah meninggalkan zona nyaman, ikut nimbrung obrolan-obrolan positif. Nimbrung kegiatan positif, sedekah waktu, sedekah tenaga, sedekah ilmu, sedekah harta. Paling tidak, mendoakan, dan mengaminkan doa orang. Silaturahim yang memperpanjang umur dan melancarkan rezeki, sebanding kontribusi kita pada sesama. Boleh jadi Allah kasih rezeki, kasih jalan keluar dari tempat lain, disebabkan Allah ridho atas kebaikan kita di komunitas² yang selama ini kita “sedekah”in.

Terakhir, ini juga tidak mudah. Saya akui, sangat tidak mudah. Mengikhlaskan, sabar, tawakkal, berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

Kita cuma makhluk, kepintaran terbatas, kekuatan terbatas, waktu terbatas, kesehatan terbatas, teman sedikit, emang bisa apa?

Kadang, Allah Sang Maha Pengasih Maha Penyayang itu, cuma mau kita berserah diri, pasrah, ikhlas, setelah habis-habisan ikhtiar. Ketika dikasih jalan keluar sesuai harapan, tambahin lagi porsi syukur kita. Ketika sebaliknya, tambahin lagi porsi sabar kita. Kedua hal ini sama-sama ada istananya di Surga kelak. Jangan berdoa ‘ngatur² Allah karena yang menurut kita baik belum tentu baik beneran. Tapi ketetapan Allah pasti terbaik, pasti! 😊 Berdoanya, minta kekuatan, minta rasa ridho, atas ketetapan-Nya, ridho ngejalanin kehendak-Nya.

Hidup di dunia ini cuma sebentar banget ya, cuma numpang lewat. Senengnya cuma sebentar, susahnya juga cuma sebentar. Akhirat yang abadi. Senangnya abadi, azabnya juga abadi (na’udzubiLLaahi min dzalik). Tujuan akhir perjalanan orang beriman itu satu, super kenikmatan abadi, Surga.

Ngomong Sendiri untuk menguatkan diri sendiri dan orang lain. La haula wa la quwata illa biLLaah. HasbunaLLaah wani’mal wakil. Allahu Akbar!