Turut sedih prihatin dengan keputusan pasangan muda Larisa dan Alvin, anak menantunya mendiang Ustadz Arifin ilham. Semoga Allah kuatkan teguhkan iman Islam keduanya.

Pernikahan memang bukan melulu tentang kebahagiaan, kemesraan, bikin ‘ngiri para jomblo. Tapi tentang jihad, menerima kekurangan pasangan dan mensyukuri kebaikan-kebaikannya seremehtemeh seretjeh apapun. Tentu tidak mudah. Apalagi bagi mereka yang masih sangat muda, populer, dengan latar belakang bak bumi dan langit.

Banyak orang mengibaratkan pernikahan seperti sebuah kapal melintasi samudera, gelombang badainya pasti dahsyat. Maka kapalnya harus kuat, bahan bakar harus cukup, sparepart cukup, mekanik handal, nahkodanya harus paham tujuan, rutenya, serta cukup bekal ilmu dalam menghadapi kejutan-kejutan di perjalanan.

Mencintai karena Allah, itu bukan lip service. Bukan sebatas quote sok bijak. Mudah diomongin, dihadiahkan sebagai nasehat, tapi ngejalanin sendiri, termehek-mehek.

Kita perlu banyak belajar dari orangtua-orangtua kita jaman dulu yang menikah tanpa pacaran, tapi langgeng sampai usia pernikahan 50-60 tahun, hingga maut memisahkan. Kita mungkin perlu mengadopsi pola kesuksesan mereka dan memodifikasinya dengan sikon sekarang.

Tapi jika mempertahankan hubungan pernikahan itu berpotensi menciptakan toxic relationship, menzalimi satu sama lain, lebih besar mudharatnya dari pada manfaatnya, maka hal yang dibenci-Nya itu boleh menjadi pilihan. Wallahu’alam.

Semoga Allah kuatkan ikatan cinta kita dan pasangan, makin sakinah, kokoh, langgeng, sehidup sesurga.