Saya bergabung dua komunitas kanker yang 99% members nya perempuan. Saya juga mengelola satu komunitas khusus muslimah. Namanya juga perempuan, ini makhluk yang paling hebat di soal rasa. Salah satu rasa yang sama adalah, berkurangnya rasa percaya diri pasca operasi payudara.

Motivasi terkuat itu datangnya dari dalam diri sendiri. Dan apa yang kita pikirkan, kita ucapkan, kita tulis, itu echo-nya akan kembali kepada diri sendiri. Maka dari itu ketika saya sedang butuh ekstra kekuatan, kadang saya malah jadi sotoy, sok memotivasi orang-orang, lewat pertanyaan-pertanyaan. Sebagai contoh;

Mata kita masih bisa melihat kan ya?
Telinga masih bisa mendengar, kan ya?
Jari tangan, jari kaki, masih berfungsi membantu aktivitas sehari-hari, kan ya?
Tungkai masih bisa berjalan kan ya?
Napas? Pakai bantuan tabung oksigen?
Jantung? Pakai bantuan alat pacu jantung?
Mulut? Masih bisa merasa makanan enak?
Tenggorokan masih bisa menelan?
Keluarga, sahabat, masih membersamai kita?
Tempat tinggal, di kolong jembatan? Di gubug kardus? Di kandang embek?

Kemudahan akses pengobatan, lewat bpjs, atau asuransi, atau jalur pribadi. BAK / BAB normal lancar atau pakai alat bantu selang buatan? Makan, masih biasa, atau pakai alat bantu sonde?

Pertanyaan² ini jika kita jawab dengan jujur, pasti bermuara pada satu rasa….

Syukur. 😊

Selain bersyukur kepada Sang Khaliq dan Rabb Yang Maha Penyayang, saya juga jadi sering ngomong sendiri, misalnya sehabis BAB (karena saya sering punya keluhan sembelit walaupun sudah banyak makan sayur, buah, dan minum) saya usap-usap perut dan punggung bawah, “Makasih yaaa udah nolongin aku buang sampah, sampai hari ini, maafin aku yaa kalo aku suka zolim, doyan makan pedas, makanan berlemak, yang bikin kalian ekstra kerja keras.”

Baca juga; https://mbafi.wordpress.com/2021/10/25/seks-pasca-kanker/

Saya yakin dan percaya, kalo kita fokus pada hal-hal yang kita syukuri, maka ini akan menguntungkan kita juga, memperbaiki kualitas hidup kita.

-Afiyah-